Konferensi Etika Katolik di Trento

Oleh Ahmad Syafii Maarif

Boleh jadi Dr Bernard Kieser, pastor dari Kota Baru Yogyakarta, yang memberi rekomendasi agar saya diundang untuk memberikan sebuah pidato kunci dalam Konferensi Internasional Kedua Lintas Kultural bagi Para Etisi Teologis Katolik sedunia yang berlangsung di Trento (Italia), 24-27 Juli 2010.

Ketua Etika Teologis Katolik dari Gereja Dunia, James F Keenan SJ dari Departemen Teologi, Kolej Boston, Amerika Serikat, ditugasi mengontak saya pada November 2008, hampir dua tahun silam. Setelah dipertimbangkan, undangan itu saya terima. Pada 22 Juli ini, saya akan berangkat ke sana untuk menyampaikan pidato dan mengikuti konferensi sampai dengan 27 Juli. Kemudian, pada 29 Juli, saya akan menghadiri sebuah seminar di Munchen, Jerman, untuk menyampaikan makalah tentang Pancasila sebagai kekuatan pemersatu bangsa Indonesia.

Menurut surat Keenan tertanggal 7 November 2008, pada konferensi pertama bulan Juli 2006 di Padova, juga di Italia, peserta sebanyak 400 pakar etika teologis yang hadir seluruhnya dari kalangan Katolik. Pada konferensi kedua ini yang dihadiri oleh sekitar 600 diundang pula seorang pembicara dari pihak Islam. Waktu yang disediakan untuk saya 20 menit, sudah ditetapkan sejak lama. Dengan demikian, saya harus disiplin membuat makalah untuk tidak melebihi waktu yang tersedia. Selain saya, ada tiga pembicara kunci lainnya, seorang dari Ghana, Dr Mercy Amba Oduyoye, dan seorang lagi dari Venisia, Kardinal Angelo Scola.

Makalah saya berjudul Ethics and Inter-Religious Dialogue in a Globalized World sepanjang hampir 2.000 perkataan tipe Times New Roman. Tetapi, saya harus pula memperluas makalah itu untuk tujuan penerbitan. Saya harus bekerja dua kali dengan tema yang sama. Semuanya sudah saya lakukan dengan permintaan kepada Keenan agar makalah diedit lebih dulu, maklum ekspresi bahasa Inggris belum tentu tepat, apalagi di depan forum dunia yang sangat beragam itu. Para pembicara selain menggunakan bahasa Inggris, juga akan ada terjemahan dalam bahasa Perancis, Italia, dan Spanyol, tiga negara yang memang dikenal secara tradisi penganut mayoritas Katolik.

Rupanya dialog dan kerja sama lintas iman yang kami rintis di Indonesia sejak 12 tahun terakhir telah semakin berhasil membangun jembatan saling pengertian, sekalipun di lapangan kompetisi memperbanyak pengikut juga berlaku. Bagi saya, kompetisi semacam itu telah terjadi di seluruh muka bumi dan tampaknya tak akan pernah berakhir. Syarat yang mesti disepakati adalah agar semuanya berlangsung jujur, aman, dan sunyi dari paksaan.

Di Uni Eropa sejak beberapa tahun terakhir, perkembangan Islam cukup mengejutkan, sampai-sampai ada pihak yang sangat khawatir menghadapi fenomena semacam itu. Padahal, Islam yang ditawarkan itu juga tidak berada di bawah bendera tunggal. Telah berlaku pula kompetisi internal yang tidak sepi dari gesekan sesama Muslim. Ini yang sedikit mengganggu, sementara pihak mayoritas di sana sering menyamaratakan Islam itu.

Hal serupa juga terlihat di kalangan kita. Umumnya, umat Islam tidak bisa membedakan mana yang aliran ini dan aliran itu, sekte ini dan sekte itu. Konflik-konflik horizontal tidak jarang dipicu oleh ketidakpahaman ini. Oleh sebab itu, dialog lintas iman perlu mencermati fenonema ini, agar persaudaraan antarpenganut agama tidak dirusak oleh hal-hal yang semestinya dapat dihindari. Tidak boleh ada lagi darah mengalir akibat agama yang dibawa-bawa ke gelanggang, yang seharusnya senantiasa mengibarkan panji-panji perdamaian, persaudaraan, dan saling pengertian.

Resep Dr Hans Kung di bawah ini patut direnungkan oleh semua penganut agama: “Tidak akan ada perdamaian di antara peradaban tanpa perdamaian lintas agama; Tidak akan ada perdamaian di antara agama-agama tanpa dialog di antara mereka; Kita hidup di sebuah dunia, tempat hubungan di antara agama-agama diblok oleh aneka corak dogmatisme yang tidak saja terasa di lingkungan Gereja Katolik Roma, tetapi juga di semua gereja, agama, dan ideologi.” Kung juga menyebut bahaya fundamentalisme yang merebak di kalangan Kristen, Muslim, Yahudi, Hindu, Budha, dan seringkali hanya berakar pada keresahan sosial sebagai reaksi terhadap sekularisme Barat dengan keinginan untuk tetap berada dalam orientasi dasar dalam hidup.

Saya tidak tahu, apakah dua pertemuan dunia di atas akan dapat semakin melapangkan jalan menuju cita-cita Kung, yang juga belum lama ini telah menulis sebuah karya tebal tentang Islam dengan judul Islam, Lampau, Sekarang, dan Masa Depan. Tanpa perdamaian, hari depan umat manusia akan tetap saja berada di bawah bayang-bayang gelap hara-kiri peradaban. Tetapi, Alquran tetap optimistis memandang hari depan peradaban manusia, sekalipun harus melalui jalan penuh liku dan terseok-seok. Maukah kita belajar dari jalan yang serbaterjal itu?

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: