Muhammadiyah Tolak Pluralisme yang Samakan Semua Agama


Yogyakarta – Muhammadiyah memandang perlunya pengembangan pluralisme dan toleransi beragama dan toleransi peradaban  antar bangsa. Namun, Muhammadiyah menolak pluralisme yang menyamakan semua agama.

Bagi Muhammadiyah, pluralisme dan toleransi merupakan salah satu upaya untuk menyelesaikan berbagai persoalan sosial bangsa ini. Hal ini menjadi salah satu butir rekomendasi Muktamar ke-46 Muhammadiyah.

“Muhammadiyah mendukung dan mengembangkan pluralisme, tapi menolak pluralisme yang mengarah pada sinkretisme dan menyamakan semua agama,” kata pimpinan sidang pleno IX yang membahas dan mengesahkan hasil sidang komisi Muktamar ke-46 Muhammadiyah, Din Syamsuddin, di Sportorium UMY di Jalan Lingkar Selatan, Tamantirto, Bantul, Rabu (7/7/2010).

Rekomendasi itu dihasilkan oleh Komisi E yang menangani masalah keumatan, kebangsaan dan isu-isu strategis. Komisi E memandang perlunya kerja sama antarumat beragama, khususnya antarkelompok umat Islam. Sikap toleransi, saling menerima keberadaan kelompok lain perlu dikembangkan untuk menciptakan suasana sosial yang kondusif.

Din mengatakan hidup bermasyarakat harus mengakui keberadaan agama lain dan menyadari juga ada kebenaran di setiap agama. Namun yang harus disadari adalah tidak boleh ada penyamaan kebenaran antaragama.

“Keberagaman agama harus diakui, hidup saling menghormati dan toleransi. Mengenai kebenaran biarkan sesuai dengan keyakinan masing-maisng. Lakum diinukum waliya diin,” ungkap guru besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu.

Din menambahkan pemahaman agama Islam yang substansial perlu dikembangkan untuk menghindari komoditasi agama. Sebab komoditasi agama hanya akan merusak makna dan hakekat agama.

Sedangkan mengenai peran di kancah internasional, kata Din, Muhammadiyah juga akan aktif menjadi pelopor dialog antarbangsa dan peradaban untuk menciptakan perdamaian dunia. Kemajuan zaman saat ini dan perkembangan peradaban antar bangsa telah melahirkan gesekan dan tidak menutup kemungkinan lahir konflik.

“Kerja sama dan dialog diperlukan untuk meminimalkan efek gesekan antar peradaban dan Muhammadiyah akan berperan aktif,” katanya.

Menurut Din, untuk meningkatkan kesadaran dialog antarperadaban, Muhammadiyah juga aktif berkonsultasi dengan PBB terkait kasus gesekan antarperadaban. Bersama tiga negara, yaitu Inggris, Jepang, Turki serta dua organisasi sosial lainnya, Muhammadiyah terlibat aktif dalam penyelesaian konflik di Filipina Selatan.

“Kita juga mengumpulkan tokoh dunia, tidak hanya tokoh agama, tetapi juga tokoh bisnis, ilmuwan dalam acara World Peace Forum dan tahun ini kita (Muhammadiyah) sudah menyelenggarakan World Peace Forum untuk kali ketiga,” jelas ketua umum PP Muhammadiyah 2010-2015 terpilih itu.

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: