Muhammadiyah Terbuka sejak Lahir

Yogyakarta, Kompas – Meski didirikan berdasarkan nilai-nilai Islam yang kuat, sejak awal Muhammadiyah adalah organisasi terbuka yang menerima non-Muslim ataupun warga negara nonpribumi sebagai anggotanya.

Namun, keterbukaan yang menjadi roh asli Muhammadiyah itu kini justru mendapat tentangan dari kader dan aktivis Muhammadiyah sendiri yang lebih mengidentifikasikan organisasi mereka sebagai gerakan purifikasi agama.

Karakter dasar keterbukaan Muhammadiyah itu diungkapkan anggota Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian, dan Pengembangan Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Abdul Munir Mulkhan, dalam diskusi ”Meneropong Satu Abad Muhammadiyah” di arena Muktamar Ke-46 Muhammadiyah, Yogyakarta, Senin (5/7).

Berdasarkan anggaran rumah tangga pertama Muhammadiyah, menurut Munir, terdapat tiga jenis keanggotaan Muhammadiyah, yaitu anggota biasa, anggota istimewa, dan anggota donatur.

”Anggota istimewa dan anggota donatur untuk siapa saja yang ingin mengabdi bagi kemanusiaan di Muhammadiyah, tanpa memandang agama ataupun ras,” kata Munir.

Tokoh tanpa latar belakang keislaman yang kuat saat masuk pada awal berdirinya Muhammadiyah, antara lain, Soetomo, dokter dari kalangan priayi abangan yang namanya kini diabadikan sebagai nama rumah sakit terbesar di Jawa Timur. Menurut Munir, Soetomo diajak masuk karena dianggap mampu mengelola persoalan kesehatan yang menjadi salah satu bidang kerja Muhammadiyah dan juga karena ia tertarik dengan cita-cita KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah.

Penasihat PP Muhammadiyah Ahmad Syafii Maarif menambahkan, sangat sedikit perhatian Muhammadiyah terhadap keberlanjutan proses pembaruan pemikiran yang mencerahkan di Muhammadiyah.

Tidak terkelolanya pembaruan pemikiran yang terus-menerus itu membuat Muhammadiyah saat ini cenderung tertutup atau eksklusif. Pluralisme yang menjadi dasar pendirian Muhammadiyah justru ditentang oleh sebagian kader dan aktivis Muhammadiyah saat ini.

”Intelektualisme itu berarti pluralisme. Kurangnya pluralisme berarti terjadinya kemunduran,” ungkap Syafii. (ara/mzw/nta)

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: