Haedar-Yunahar Figur Ulama, Din Punya Intelektual

image

SM/Juli Nugroho  HITUNG SUARA: Sejumlah muktamirin menyaksikan penghitungan suara dari layar lebar di Gedung Ar Fachrudin Unit B, Kampus UMY Bantul, Senin (5/7) malam. Dari hasil penghitungan, posisi tertinggi formatur Pimpinan Pusat Muhammadiyah 2010-2015 dipegang oleh Din Syamsuddin.(30)

Muktamar ke-46 Muhammadiyah di Yogyakarta hari ini akan memutuskan siapa pemimpin roda persyarikatan itu untuk periode 2010-2015. Tiga nama disebut-sebut memiliki peluang kuat hasil penghitungan suara pemilihan 13 anggota tetap PP Muhammadiyah. Apakah incumbent Din Syamsuddin, Haedar Nashir, atau Yunahar Ilyas? Atau justru nama lain di luar 13 anggota tetap?

TEPUK tangan diiringi sedikit keriuhan mendadak memecah kesunyian lantai dasar Gedung AR Fakhrudin B, kampus Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Senin (4/7) pukul 00:00. Di ruang itulah dilakukan penghitungan suara pemilihan 13 anggota tetap Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah periode 2010-2015.

Suara riuh mencuat saat layar putih berukuran 2 x 4 meter yang dipasang di lobi ruang tersebut memperlihatkan hasil terakhir penghitungan suara.

Tidak diketahui, apakah tepukan itu menyambut keunggulan ketua incumbent Din Syamsuddin atau sekadar memberikan applaus terhadap hasil keseluruhan penghitungan. Dari penghitungan sementara, Din unggul jauh meninggalkan sejumlah nama lain, dengan jumlah suara 1.915 suara.

Dua nama yang selama ini kerap didengungkan sebagai rival Din yakni Haedar Nashir dan Yunahar Ilyas, berada di posisi keempat dan kelima dengan raihan suara masing-masing 1.482 dan 1.431 suara. Padahal, sejak sebelum muktamar, dua nama itu kerap disebut merupakan figur alternatif yang pantas menggantikan Din Syamsuddin.

Namun demikian, jadi atau tidaknya lagi Din Syamsudin sebagai ketua PP Muhammadiyah untuk kedua kalinya, masih akan ditentukan oleh pemilihan yang dilakukan 13 anggota tetap PP Muhammadiyah dalam sidang anggota pimpinan pusat ter[ilih yang akan dilaksanakan Rabu pagi ini pukul 09.00-10.00.

Ketua Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik PP Muhammadiyah 2005-2010 Bachtiar Effendi menyatakan, besarnya suara yang diraih Din Syamsuddin menegaskan mayoritas muktamirin masih menginginkan Din menjadi ketua umum lagi.

Menurutnya, meski dalam tradisi Muhammadiyah tidak ada yang disebut dengan persaingan memperebutkan jabatan ketua atau yang dikatakan rivalitas persaingan, ia menilai hasil pemilihan mempertegas ke arah mana pilihan muktamirin.

“Kalau bedanya cuma satu dua, atau puluhan, mungkin masih memperlihatkan adanya harapan muktamirin kepada sejumlah figur-figur. Tapi ini, dibandingkan dengan nama-nama yang disebut layak menjadi pengganti Din Syamsudin, suara Din jauh lebih unggul, bahkan bedanya hingga ratusan suara. Ini terang sekali,’’ papar dosen UIN Syarif Hidayatullah tersebut.
Pendapat Bachtiar didukung oleh sejumlah ketua perwakilan yang tampak hadir di ruang lantai dasar Gedung Fakhrudin B. Salah satunya, Andar Nubuwo, Ketua Pimpinan Cabang Istimewa  Muhammadiyah (PCIM) Perancis.

Fakta itu, lanjut dia, didukung oleh mayoritas muktamirin yang masih memberikan dukungan kepada keduanya. Hal serupa dilontarkan peninjau dari Universitas Muhammadiyah UHAMKA Jakarta, Suyatno. Dia mengungkapkan Din memiliki kemampuan sebagai pemimpin. Keduanya berpendapat, Din memiliki kapasitas yang ideal untuk  memimpin Muhammadiyah karena memiliki intelektualitas dan keulamaan yang mumpuni.

Walau demikian, Bachtiar, Andar Nubowo, dan Suyatno mengakui, bahwa Haedar Nashir memiliki kapasitas yang tidak beda dengan Din Syamsudin. ’’Pak Haedar pun kualitas intelektual dan keulamaan setara dengan Pak Din,’’ kata Suyatno.

Artinya, ketiga orang tersebut juga melihat Haedar Nashir memenuhi persyaratan untuk memimpin Muhammadiyah. Menurut Bachtiar, dalam sidang pleno muktamar hampir semua pimpinan wilayah Muhammadiyah tidak berkeberatan dengan laporan pertanggungjawaban yang dibuat oleh PP Muhammadiyah. “Ada beberapa suara yang berbeda, tetapi itu tidak substantif. Sehingga potensi incumbent untuk terpilih lagi sangat besar,” tuturnya.

Kritikan

Meski mendapat banyak apresiasi, Din Syamsudin pun tidak terlepas dari kritikan. Sebagian kalangan menilai Din telah melangkah telah terlalu jauh dalam berpolitik. Barangkali seperti dosa politik organisasi.  Salah satu puncaknya, saat dia dianggap mengarahkan Muhammadiyah mendukung Jusuf Kalla-Wiranto dalam

Pemilihan Presiden 2009. Selain itu, salah satu kesalahan lain adalah saat dia tertarik menjadi calon wapres dalam Pilpres 2009.
Suara miring lain yang kerap dialamatkan ke Din adalah dianggap kurang memperhatikan urusan internal. Dia lebih banyak mengurus persoalan internasional, lewat cara menghadiri berbagai event keagamaan di luar negeri.

Dengan berbagai alasan tersebut, muncul suara agar kepemimpinan mendatang posisi Din diganti. Bahkan, untuk mengganjal Din tersebut, muncul informasi yang menyebutkan sebaiknya dalam menentukan Ketua PP Muhammadiyah periode 2010-2015, sebanyak 13 anggota tetap terpilih melakukan voting. Sebab lewat cara voting, posisi Din yang berdasarkan hasil pemungutan suara langsung berada di atas angin, bisa saja terganjal, bila ke-12 anggota lain malah memilih nama di luar Din. Ini dimungkinkan, mengingat dalam aturan pemilihan Ketua PP Muhammadiyah, peraih suara terbanyak tidak selalu otomatis menjadi ketua.

Masih ada syarat lain yang harus dilalui, yakni persetujuan dari 12 anggota tetap. Sempat pula beredar adanya gerakan ABD (asal bukan Din), yang disebut-sebut disponsori oleh pihak yang pernah memiliki keterkaitan kuat dengan Muhammadiyah.
Informasi lain menyebutkan Din layak diganti agar kepemimpinan Muhammadiyah kembali ke figur ulama bukan intelektual. Beberapa nama yang selama ini digadang-gadang adalah Haedar Nashir dan Yunahar Ilyas.
Dr Haedar Nashir MSi, yang dilahirkan di Bandung 14 Juli 1963,  dikenal merupakan Ketua PP Muhammadiyah 2005-2010. Saat ini dia menjadi dosen di FISIPOL UGM.

Kemudian Prof Dr Yunahar Ilyas Lc MA, lahir di Bukittinggi, 22 September 1956, juga merupakan Ketua PP Muhammadiyah 2005-2010 dan dosen di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
Baik Haedar dan Yunahar Ilyas, menurut salah seorang peninjau dari Alumni ITB Ibnu Mahmud, merupakan figur-figur yang layak dan pantas bila dipilih menjadi Ketua PP Muhammadiyah. Keduanya, menurut Ibnu, merupakan sosok yang secara pandangan keagamaan segaris dengan pandangan Muhammadiyah dan memiliki kemampuan yang pantas untuk mengendalikan organisasi.

Salah satu alasan lainnya adalah baik Haedar maupun Yunahar merupakan sosok yang sudah lama berkiprah di Muhammadiyah.
Alasan itu tampaknya cukup logis, mengingat sebelum muktamar, kedua nama itu kerap disebut. Walaupun bila dikonfirmasikan kepada keduanya, baik Haedar maupun Yunahar, selalu menegaskan tak ada tradisi rebutan pemilihan dan persaingan di organisasi Muhammadiyah. Ini mengingat kepemimpinan di Muhammadiyah bersifat kolegial.
Bila dilakukan voting, Yunahar pun akan memilih Din. Akankah prediksi tersebut terbukti, jawabannya akan ditemukan dalam sidang di muktamar hari ini. (Budi Nugraha-41)

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: