Din Tinggal Selangkah Lagi

YOGYAKARTA- Peluang Din Syamsuddin untuk menjabat Ketua PP Muhammadiyah masa jabatan kedua periode 2010-2015 tampaknya tinggal selangkah lagi. Dalam pemungutan suara, dia unggul dengan suara terbanyak 1.915 suara pemilihan 13 anggota PP.

Kendati dalam AD/ART Muhammadiyah menyebutkan peraih suara terbanyak tidak otomatis menjadi ketua umum, tetapi dari kultur PP Muhammadiyah menyepakati peraih suara terbanyak dipilih menjadi ketua umum. Karena itu, Din harus berupaya meyakinkan 12 koleganya agar penentuan ketua umum dilakukan secara musyawarah dan menghindari voting.

Penasihat PP Muhammadiyah Ahmad Syafi’i Ma’arif di arena Muktamar di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, mengungkapkan kultur organisasi itu biasanya peraih suara terbanyak menjadi ketua umum. ’’Kultur Muhammadiyah, peraih suara terbanyak hampir pasti menjadi ketua umum. Namun jika dia tidak mau, maka akan disepakati mencari yang dari 3 orang itu,’’ ungkap Buya Syafi’i.

Dalam penghitungan suara pemilihan 13 anggota PP Muhammadiyah, Din unggul jauh atas calon kuat Haedar Nashir yang berada di posisi ke 5 dengan perolehan 1.482 suara. Justru Muhammad Muqoddas yang tidak diunggulkan berada di posisi kedua dengan 1.650 suara. Sementara Muchdi Pr berada di posisi  ke-34 dengan 267 suara, terlempar dari 13 besar.

Isu Voting

Akibat tidak adanya aturan yang menyatakan peraih suara terbanyak otomatis menjadi ketua umum, Selasa (6/7) muncul isu yang menyebutkan penentuan ketua PP Muhammadiyah 2010-2015 yang akan ditentukan dalam rapat internal 13 anggota tetap PP terpilih akan melalui voting.

Padahal, menurut tokoh muda Muhammadiyah, Abdul Mu’ti, dalam tradisi Muhammadiyah, peraih suara terbanyak selalu dipilih menjadi ketua umum. Hal ini sangat logis karena mencerminkan aspirasi muktamirin, sebagai representasi persyarikatan dalam kepemimpinan, kecuali bila dia tidak bersedia.
Menurutnya, boleh saja ke-13 anggota tetap PP Muhammadiyah yang merupakan formatur memilih ketua PP Muhammadiyah dengan cara voting, tetapi harus disepakati semua anggota.

Sebab, yang terjadi selama ini pemilihan ketua PP dilakukan secara demokratis. Caranya, floor selalu menanyakan kesediaan peraih suara terbanyak, apakah yang bersangkutan bersedia atau tidak menjadi ketua.

’’Jika bersedia, harus diterima. Jika tidak, ketua bisa dipilih satu orang dari 13 orang. Atau dipilih dari luar sesuai  kesepakatan,’’ katanya.

Sementara itu Ketua Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik PP Muhammadiyah 2005-2010 Bachtiar Efendi berharap agar penentuan ketua umum tidak dilakukan melalui voting, tetapi musyawarah sesuai tradisi. ’’Jika dilakukan melalui voting ada kesan orang Muhammadiyah tidak percaya diri dan tidak bisa bermusyawarah,’’ katanya.

Apalagi, menurutnya, perbedaan perolehan suara antarkandidat sangat signifikan. Dia memberi contoh raihan suara yang diperoleh Din dengan Haedar Nashir serta Yunahar Ilyas cukup besar.
’’Jika selisihnya kecil, bisa dimaklumi penentuannya melalui voting.

Tapi kalau perbedaan suaranya sangat jauh, tidak logis bila tetap dilakukan voting. Sebab hal itu seperti mengingkari realitas. Jumlah suara antara Din dan nama-nama lain mencapai ratusan. Ini mencerminkan bahwa muktamirin menginginkan yang dijadikan ketua adalah figur yang meraih suara terbanyak,’’ jelasnya.

Anggota tetap PP Muhammadiyah terpilih Muhammad Muqoddas menyatakan, tidak ada aturan suara terbanyak menjadi ketua umum. Namun selama ini ada kebiasaan, peraih suara terbanyak bakal menempati kursi pimpinan tertinggi organisasi tersebut.

’’Kebiasannya suara terbanyak menjadi ketua umum dan ada semacam larangan bagi yang bukan peraih suara terbanyak untuk menjadi ketua,’’ ungkapnya.

Dia juga terus terang menyatakan tidak bersedia menjadi ketua umum dan melihat sosok Din Syamsuddin sebagai orang yang tepat. Bahkan dia menegaskan peraih suara terbanyak tersebut telah menyatakan kesediaan menjadi ketua umum.

Anggota terpilih lain, Goodwil Zubair menjelaskan demokrasi di Muhammadiyah sudah berjalan baik. Menurutnya, tidak akan voting dalam pemilihan ketua umum dan sekretaris yang berlangsung hari ini. Semua anggota PP sebanyak 13 orang akan berembuk menentukan posisi dalam organisasi.
’’Tidak tertutup kemungkinan yang muda bisa menjadi ketua, yang jelas banyak kader yang siap menjalankan organisasi,’’ tegasnya.

Dahlan Rais yang juga terpilih sebagai anggota PP menambahkan bisa saja terjadi penambahan anggota tergantung hasil rapat 13 anggota. Banyak hal yang menjadi program kerja seperti masalah kemiskinan.
Kepemimpinan Kharismatik

Pengamat Muhammadiyah dari Korea Selatan, Prof Hyung Jun Kim menilai organisasi tersebut tidak memiliki pemimpin kharismatik seperti KH Ahmad Dahlan. Dia mengakui sosok itu sebagai pimpinan yang menjadi panutan anggota. Namun sebagian orang menolak sebutan kharismatik dengan alasan tak boleh ada pengkultusan individu.

’’Ahmad Dahlan memiliki keberanian, keteguhan luar biasa dan belum ada pemimpin Muhammadiyah seperti dia hingga kini,’’ kata Kim dalam diskusi di Media Center, UMY.

Pengamat lain, Prof Nakamura dari Jepang menambahkan Muhammadiyah sebagai organisasi telah mampu meraih sukses.  Amal usaha, sekolah, dan bidang lain berkembang pesat. Namun satu hal yang menjadi catatannya, Muhammadiyah harus mampu mengatasi kemiskinan struktural yang terjadi di negeri ini.
’’Apakah Muhammadiyah mampu mengatasi itu semua, kemiskinan struktural di akar rumput yang ada di depan mata,’’ ungkap dia.(bn,D19-41)

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: