image

MUHAMMADIYAH akan dipimpin oleh seorang guru lagi. Suara terbanyak yang dihimpun dari muktamirun, Din Syamsuddin, guru besar UIN Syarif Hidayatullah memperoleh suara terbanyak. Din sebagai sosok yang utuh sekalipun terdapat kekurangan.

Dia seorang ulama dan sekaligus intelektual. Alumni Pondok Pesantren Gontor dan University of California Los Angeles (UCLA) itu diprediksi memimpin kembali Muhammadiyah masa khidmat 2010-2015. Meskipun demikian, penetapan keputusan siapa pemegang kendali persyarikatan tersebut akan diputuskan hari ini.

Din Syamsuddin adalah seorang guru yang memimpin, tidak sekadar membawa lokomotif yang hanya melihat ke depan. Tetapi, dia juga seorang pengemudi persyarikatan yang berorientasi pada tujuan, tidak pernah terlena kapan dan di mana ia berada dan hanya sesekali melihat ke belakang melalui kaca spionnya. Al Faraby, dengan al Madiinatul Fadlilah-nya menginginkan supaya orang yang memimpin negara atau organisasi itu dapat mengumpulkan dalam dirinya dua sifat: pemimpin dan guru, leader dan philoshofer.

Terdapat perbedaan hubungan antara pemimpin dan pengikut dengan hubungan antara guru dan murid. Antara guru dan murid hubungannya adalah transmisi ilmu pengetahuan yang memerlukan kompetensi kedua belah pihak.

Sementara pemimpin dan pengikut, terletak pada hubungan pribadi kedua belah pihak dan kesadaran tugasnya. Seorang guru hidup dengan ilmu, sedangkan seorang pemimpin hidup dengan pengikutnya.(Mukti Ali, Metode Memahami: 1991). Guru tanpa ilmu bukan guru lagi, pemimpin tanpa pengikut bukan pemimpin lagi.

Oleh karena itu, kewajiban guru selalu menambah ilmu, dan kewajiban pemimpin menambah pengikut. Seorang guru berani berbuat sesuatu dengan ilmunya, sekalipun berbeda dengan kemauan orang banyak. Dan pemimpin berani berbuat sesuatu yang sesuai dengan kemauan orang banyak sekalipun bertentangan dengan logika ilmu.

Din Syamsuddin, kini menjadi guru untuk memimpin Muhammadiyah. Sebagai guru, dia milik bangsa, bukan hanya milik Muhammadiyah, Din akan melebarkan jubah dalam tenda besar yang memayungi seluruh elemen masyarakat Indonesia yang majemuk.
Sebagai pemimpin, Din bersama 12 anggota pimpinan pusat lainnya yang juga kebanyakan guru, diharapkan membawa jamaah Muhammadiyah ke arah yang lebih liberal dan mencerahkan.

Liberal dalam Muhammadiyah harus dimaknai sebagai pembebasan dari keterbelengguan. Pembebasan dari kebodohan dan kemiskinan serta keterbelakangan, pembebasan diri dari kejumudan, bahkan pembebasan diri dari sikap eksklusif yang menjerat manusia dari keangkuhan dan keangkaramurkaan. Dan, pemahaman liberal semacam ini adalah aktualisasi teologi surat Al Ma’un, yaitu teologi pembebasan.
Akomodatif Reformatif

Korektif merupakan salah satu sifat guru. Muhammadiyah akan menjadi guru bangsa, jika menyadari bahwa yang salah adalah salah meskipun ia berasal dari dirinya sendiri, sebagaimana yang benar itu benar meskipun ia berasal dari orang lain.
Pimpinan dalam Muhammadiyah tidak boleh mencari-cari kesalahan orang lain, tanpa harus kehilangan sikap kritisnya, juga tidak membabi buta meremehkan pendapat pihak lain. Dalam ranah ini, Muhammadiyah meyakini dirinya dalam ide relativitas.

Ide relativitas menurut KHA Dahlan, agama yang bersifat absolut itu, harus dipahami melalui medium penafsiran manusia yang berlaku dalam setting lingkungan sosial yang kompleks. Karena itu tidak ada pemahaman agama yang benar secara absolut (KHA Dahlan, Falsafah Ajaran,16).

Pemahaman KHA Dahlan ini, memang terlalu modern pada zamannya. Ide relativitas dalam memahami agama ini telah melahirkan karakteristik tertentu, yang dari perspektif sosio psikologis, menunjukkan proses perubahan dalam cara memahami, mengemukakan dan menilai ide sebagai cara berfungsinya individu. Semua ini memuncak pada etos yang Weber membicarakannya dalam The Spirit of Capitalism, atau sejenis mentalitas (Weber, Etika Kerja: 1983). Sebagai sebuah fenomena spiritual, etos semacam ini ditemukan dalam Islam, sebuah agama yang mengatur seluruh aspek kehidupan keduniawian. Muhammadiyah telah bergumul dengan etos ini, sehingga menjadi agen modernitas.

Jika modernitas Muhammadiyah disandingkan dengan postulat Islam shalihun likulli zaman wa makan, maka tidak ada pilihan lain bagi Muhammadiyah untuk bersikap akomodatif terhadap tradisi tradisi yang berkembang, sepanjang tidak bertentangan dengan koridor umum syari’at. Mungkin, jargon yang relatif relevan untuk pengembangan tradisi adalah ‘’tradisi yes, tradisionalisme no’’. Jargon ini meminjam istilah Fazlur Rahman ‘’living tradition’’, yang dipergunakan untuk menghadapi faktor dan perubahan perubahan baru. Dalam hal ini, tradisi nabi dan para sahabat harus dipahami secara dinamis dengan sosio historisnya.

Watak Muhammadiyah yang akomodatif reformatif, yaitu melakukan pembaruan terhadap tradisi atau budaya lokal tanpa memberangus tradisi itu sendiri. Konsep ini menyejarah. Dalam praktik keagamaan seperti thawaf, sebagaimana dikatakan Ibnu Abbas, sebelum Alquran turun, thawaf sudah ada, hanya saja dilakukan dengan bersiul dan bertepuk tangan, bahkan dengan telanjang. Surat Al Anfal 35 bercerita tentang: ‘’Sembahyang mereka di sekitar Baitullah itu tidak lain hanyalah siulan dan tepuk tangan….’’

Tradisi thawaf sampai sekarang tidak dihilangkan oleh Islam, tetapi direformasi oleh Rasulullah dengan membaca talbiyah. Semoga tradisi nabi menjadi rujukan Muhammadiyah untuk mencerahkan bangsa. Amin. (41)

– Rozihan adalah dosen FAI Unissula Semarang, peninjau Muktamar dan Satu Abad Muhammadiyah di Yogyakarta

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: