Jelang Satu Abad Muhammadiyah Muhammadiyah Dekati Petani, Buruh dan Kaum Miskin

Yogyakarta – Sampai saat ini masih banyak orang beranggapan Muhammadiyah sebagai organisasi masyarakat khusus untuk masyarakat perkotaan terutama keberhasilan mendirikan banyak rumah sakit dan sekolah-sekolah. Muhammadiyah dianggap kurang memberikan perhatian terhadap kaum tani, buruh dan masyarakat tak mampu lainnya.

Kesan tersebut ternyata tidak benar. Muhammadiyah tetap peduli terhadap masyarakat yang tidak mampu, mereka harus diberdayakan.

“Anggapan itu tidak sepenuhnya benar, kalau kita (Muhammadiyah-red) hanya bisa mendirikan rumah sakit, balai pengobatan dan sekolah-sekolah saja,” kata Ketua Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM), Said Tuhuleley kepada wartawan di kantor Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah di Jalan Cik Di Tiro, Yogyakarta, Senin (28/6/2010)

Menurut Said, semangat KH Ahmad Dahlan mendirikan sekolah-sekolah dan balai pengobatan saat itu untuk menolong masyarakat yang tidak mampu. Hal itu juga sudah sesuai dengan ajaran Islam. Sampai saat ini masih ada 3 golongan masyarakat di dunia yang termarginalkan, yakni petani, nelayan dan buruh tani.

“Dengan semangat seperti yang diajarkan Haji Ahmad Dahlan itu, Muhammadiyah harus mampu menegakkan keberpihakan terhadap mereka yang tidak mampu,” katanya.
Salah satu cara yang dilakukan adalah melakukan pendampingan, advokasi, pemberdayaan terhadap mereka yang tidak mampu itu. Saat ini yang upaya dilakukan di antaranya membantu petani, nelayan dan buruh.
Bila bidang pertanian, peternakan dan nelayan dapat diberdayakan, maka program pengentasan kemiskinan dengan sendirinya akan tercapai.

“Bersamaan dengan agenda muktamar ke 46 ini, MPM akan menggelar Temu Tani-Nelayan Nasional pada 30 Juni hingga 2 Juli 2010. Hasil dari pertemuan itu akan direkomendasikan untuk di bahas dalam muktamar, terutama masalah sistem pertanian terintegrasi. Sebanyak 150 perwakilan kelompok tani dari 70 Kabupaten akan kita undang,” kata Said didampingi pakar pertanian/peternakan Prof Dr Ali Agus.

Diakui oleh Said saat ini kondisi pertanian Indonesia dalam kondisi yang buruk. Petani sudah tidak mampu menghasilkan produksi pertanian yang bagus. Hal itu disebabkan kualitas tanah saat ini yang terus menurun akibat penggunaan pupuk kimia secara terus menurus.

Menurut Said untuk merubah pola pikir masyarakat petani saat ini juga bukan pekerjaan yang mudah. Namun dengan memberikan pembelajaran melalui kelompok-kelompok disertai contoh-contoh diharapkan akan memberikan hasil.

“Kita mencoba untuk memberikan pembelajaran kepada petani/kelompok tani untuk memperbaikinya terutama bahaya penggunaan pupuk kimia dan manfaat pupuk organik. Cara ini memang tidak bisa cepat tapi penyadaran dan pembelajaran dengan berbagai contoh itu harus dilakukan. Kita akan mencoba untuk membuat sistem pertanian integratif,” katanya

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: