Makin Lama Makin Cinta

  • Oleh Ibnu Djarir

PERSYARIKATAN Muhammadiyah akan menyelenggarakan perhelatan akbar, sidang tanwir, pada 1-2 Juli, dilanjutkan muktamar ke-46 tanggal 3-8 Juli mendatang di Yogyakarta. Direncanakan kegiatan itu merupakan muktamar terbesar karena bertepatan dengan seabad organisasi tersebut.

Menurut catatan sejarah, Muhammadiyah didirikan oleh Kiai Haji Ahmad Dahlan pada 18 November 1912 dan merupakan organisasi tertua yang didirikan bangsa kita, dan kini punya banyak cabang di luar negeri. Namun banyak orang belum mengenal profilnya. Yang mereka ketahui adalah  Muhammadiyah merupakan perkumpulan yang banyak mendirikan sekolah, madrasah, rumah sakit, panti asuhan, masjid, langgar, membagi-bagikan zakat, daging kurban dan sebagainya.

Bagi sebagian masyarakat, Muhammadyah lebih dikenal sebagai perkumpulan amal sosial keagamaan. Jadi, kebanyakan baru mengamati bagian luarnya, belum berkesempatan mendapatkan informasi tentang ajarannya secara lengkap.

Salah seorang yang pernah mengaji kepada Kiai Haji Ahmad Dahlan adalah Bung Karno, presiden pertama kita. Dalam penuturannya, sebelum belajar agama dari Kiai Dahlan, mula-mula dia merasa tertarik dengan buku The New World of Islam (Dunia Baru Islam) dan The Rising Tide of Color ( Air Pasang Bangsa Kulit Berwarna). Di dalamnya diuraikan pandangan Jamaluddin Al-Afghani tentang semangat regeneration and rejuvenation of Islam yang menjadi pendorong timbulnya gerarakan nasional menuntut kemerdekaan di mana-mana.

Karena itu ia kemudian merasa tertarik dengan pengajian Kiai Haji Ahmad Dahlan, karena di dalamnya ada semangat memperharui dan memudakan pemahaman Islam. Bung Karno sampai berucap,’’ Maka oleh karena itu, Saudara-saudara, kok makin lama makin saya ini cinta kepada Muhammadiyah.’’ (sambutan Presiden Soekarno pada penutupan Muktamar Setengah Abad di Istora Bung Karno, 25 November 1962 ).

Karena Muhammadiyah lahir di kota Yogyakarta, orang nomor satu di DIY tentunya lebih mengetahui kiprah organisasi tersebut. Seperti pernah dinyatakan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX, ‘’Sejak didirikannya Muhammadiyah tahun 1912 oleh Kiai Haji Ahmad Dahlan sudah banyakjasa organisasi terhadap bangsa dan Tanah Air Indonesia.
Kritik Membangun Banyak rumah sekolah dengan pendidikan agama, madrasah, rumah sakit, balai kesehatan, rumah penampungan anak yatim piatu, rumah pemeliharaan orang miskin, dan lain-lain yayasan sosial yang didirikan oleh Muhammadiyah di seluruh penjuru Tanah Air dan dipeliharanya dengan cukup memuaskan…’’
Kritik yang bersifat membangun justru sangat diperlukan bagi setiap pribadi dan organisasi yang ingin maju. Demikian pula, jika Muhammadiyah ingin maju maka pengurus dan warganya harus mau menerima kriktik dengan lapang dada. Di antara kritik yang sering dialamatkan adalah bahwa di kalangan mubalig dan aktivis Muhammadiyah terdapat orang-orang yang berpikir puritan.

Yaitu, kecenderungan untuk menolak segala kebiasaan, adat-istiadat, seni dan budaya lokal yang dipandang tidak sesuai dengan Islam. Apa kriterianya perbuatan yang dianggap tidak sesuai dengan Islam? Masalah inilah yang yang selama beberapa kurun waktu belum mendapat rumusan pasti.

Timbulnya sikap dan pandangan puritan itu berasal dari pemahaman tentang tajdid (pembaharuan pemikiran Islam) yang tidak komprehensif. Tajdid, yang merupakan salah satu karakteristik Muhammadiyah, mengandung pengertian purifikasi dan dinamisasi. Purifikasi adalah pemurnian pemahaman dan pengamalan ajaran Islam sesuai dengan Alquran dan Sunnah. Sejalan dengan ini Muhammadiyah mengajak warganya dan umat Islam pada umumnya untuk menjauhi syirk, takhayul, bid’ah, dan khurafat.

Purifikasi diterapkan pada bidang akidah, ibadah mahdhah, dan akhlak yang tidak mengalami perubahan. Jadi, misalnya dalam bidang akidah (keyakinan), umat Islam harus tetap berpegang pada tauhid sampai kapan pun. Dalam bidang ibadah mahdhah, seperti salat lima waktu, maka sampai kapan pun jumlah rakaatnya tetap tidak berubah. Dalam bidang akhlak, seperti berbakti kepada orang tua (birrul walidaian), harus dipegang teguh selamanya.

Dari segi taraf pendidikan dan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi boleh dikatakan bangsa kita mengalami kemajuan.Tetapi dari segi kualitas moral dan peradaban, apakah bangsa kita mengalami kemajuan?

Sebagai contoh, sejak awal kemerdekaan, korupsi telah terjadi dalam lingkup birokrasi, meski dalam skala kecil. Pemerintah dan DPR juga telah mengeluarkan UU Antikorupsi. Setelah 65 tahun kita merdeka, ternyata korupsi dan kejahatan dalam berbagai bentuknya bukan makin berkurang tetapi makin merajalela. (10)

— Drs H Ibnu Djarir, Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: