PARADIGMA TAJDID MUHAMMADIYAH SEBAGAI GERAKAN MODERNIS-REFORMIS

Oleh Haedar Nashir

  1. . PENDAHULUAN

Gerakan Islam atau gerakan sosial dinyatakan sebagai gerakan modern karena wataknya yang modern (ashar), yakni bersifat kekinian dan kedisinian atau dengan kata lain sesuai dengan keadaan perkembangan zaman saat ini. Modernisme sebagai sitem paham di dunia Barat lahir dalam pergumulan modernisasi, yakni suatu proses perubahan masyarakat dari masyarakat tradisional atau tertinggal menjadi masyarakat modern, the processes of transformation from traditional or underdeveloped societes to modern societes (Borgatta, 1992: 1299). Dalam konteks gerakan Islam, gagasan kaum modernis Islam adalah memperkenalkan penafsiran ulang ajaran Islam (re-interpretation of Islam) yang sejalan dengan dunia modern, yang muncul pada awal abad ke-19 akibat kondisi umat Islam yang kehilangan posisi dalam percaturan peradaban dan dunia modern  (http://www.oxforddislamicstudies.com/article/opr/t253/e9).

Gerakan sosial termasuk gerakan keagamaan disebut pula sebagai reformis karena bersifat reform (islah), yakni melakukan perubahan atau pembaruan bentuk/format. Esensinya sama yakni gerakan Islam tersebut menampilkan wajah dan aksi yang baru sesuai dengan perkembangan zaman. Gerakan reformasi biasanya menyentuh sejumlah aspek, tidak bersifat total, dan lebih terbatas pada aspek-aspek tertentu dalam perubahan sosial (Giddens, 1993: 643). Gerakan reformasi Islam (Islamic reform movements) tidak jauh berbeda dengan gerakan Islam modern, berusaha mengembalikan ajaran Islam kepada sumber dasarnya Al-Quran dan Sunnah Nabi dan menghadapkannya dengan nilai-nilai dan pranata-pranata yang bersifat kontemporer atau kekinian (http://science.jrank.org/pages/8030/Islamic-Reform.htm1).

Muhammadiyah yang berdiri tahun 1912 dikenal sebagai gerakan Islam modernis atau reformis, kendati dirinya tidak mengklaim demikian. Para penulis dan peneliti maupun masyarakat menjuliki Muhammadiyah sebagai gerakan Islam modern, reformis, dan lebih spesifik lagi disebut gerakan tajdid atau pembaruan. Muhammadiyah disebut pula sebagai gerakan kebangkitan Islam (the revival of Islam, al-sahwa al-Islamy, al-Ihya al-Islamy), bahkan sebagaian penulis seperti Abubakar Atjeh menyebut sebagai gerakan Salafiyah. Pemberian predikat atau labelisasi yang demikian tentu didasari atas argumentasi atau pandangan yang dapat dipertanggungjawabkan secara keilmuan, kendati selalu terdapat resiko ketika label itu diberikan akan melahirkan kategorisasi yang berbeda dengan pemikiran Islam lain.

——————–

Makalah disajikan dalam Seminar Pra-Muktamar “Satu Abad Gerakan Tajdid Muhammadiyah Menuju Peradaban Utama: Paradigma, Model, dan Strategi Tajdid”, yang diselenggarakan Universitas Muhammadiyah Malang, tanggal 21 s.d 22 November 2009, di Kampus UM Malang, Malang-Jawa Timur.

Namun labelisasi modernis atau reformis atau tajdid itu sekaligus menjadi suatu penghargaan positf sekaligus beban sendiri bagi Muhammadiyah, yakni bagaimana kini setelah usia satu abad Muhammadiyah mengukir kembali kisah sukses tajdid atau reformasi atau modernisasi gerakannya, sehingga mampu menampilkan tajdid atau pembaruan jilid kedua. Inilah tantangan sekaligus beban bagi gerakan Muhammadiyah memasuki era baru abad kedua perjalanan sejarahnya. Apakah cukup dengan gerakan seperti sekarang ini atau ingin mengukir kisah sukses kedua untuk kejayaan umat, bangsa, dan dunia kemanusiaan sejagad.

  1. B. MODERNISME ISLAM

Dalam perkembangan sejarah Islam, modernisme sejalan dengan gerakan kebangkitan Islam, yang dikenal dengan al-Ashraniyah (modernisme) atau al-Ishlahiyah (reformisme), yang secara umum dikenal dengan kebangunan atau pembaruan dunia Islam sebagaimana dikumandangkan oleh Ibn Taimiyyah, Muhammad bin Abdul Wahhab, Jamaluddin Al-Afghani, Muhammad Abduh,  Rasyid Ridha, Ahmad Kkhan, dan para pembaru lainnya. Pergerekan modernisme atau reformisme di dunia Islam tidaklah sama, tetepi beragam dan tumbuh berkembang dari yang moderat hingga yang liberal-sekuler (An-Nashir, 2004: 31, 181).

Kendati beragam, gerakan modernisme atau reformisme Islam memiliki keinginan yang sama untuk menyatukan masa kini dan masa lalu dalam cara yang berbeda-beda itu demi terpeliharanya kontinyuitas. Kontinyitas tersebut diperlukan sekaligus untuk menjawab persoalan utama yang menjadi tema dan agenda modernisme atau reformisme Islam sebagaimana tesis Fazlur Rahman, bagaimana Islam sebagai warisan keagamaan,  budaya, politik, dan etika berhadapan dengan dunia modern dan dunia yang cepat berubah? (Ibrahim Moosa, 2000: 5).

Muhammadiyah dikenal sebagai gerakan modernis atau reformis dalam paradigma gerakan Islam. Gerakan moderns-reformis percaya pada kesempurnaan dan kemneyluruhan ajaran, tetapi aktualisasinya tidak terpaku pada struktur atau format legal-formal apalagi pemisahan, tetapi lebih menekankan pada aktualisasi nilai-nilai Islam secara objektif dalam kehidupan. Islam dalam paradigma modernis atau reformis ditampilkan sebagai agama yang mampu menghadapi dan memberikan jawaban atas perkembangan zaman tanpa harus kehilangan fondasi dan prinsip dasar ajarannya.

Peacock (1986: 26) menunjuk Muhammadiyah, termasuk gerakan perempuannya yakni ‘Aisyiyah,  sebagai gerakan Islam modern terbesar bukan hanya di Indonesia tetapi juga di dunia. Peacock menunjuk keberhasilan Muhammadiyah tidak hanya dalam gerakan pemurnian agama, tetapi dalam menampilkan karya-karya kemasyarakatan, yang meluas dan memiliki daya kekuatan yang luar biasa. Deliar Noer (1996: 320) memberikan ulasan, Muhammadiyah telah tampil menjadi gerakan modern Islam yang lebih toleran dibanding gerakan Islam modern lainnya yang keras. Karena itu dalam pandangan para peneliti seperti Clifford Geertz, George Kahin, Robert van Neil, Nakamura,  dan lain-lain menunjukkan Muhammadiyah sebagai gerakan Islam modern yang berwatak kultural selain karena tidak berpolitik praktis, tetapi mampu menampilkan pendekatan-pendekatan dakwah dan gerakan yang menyentuh jantung kehidupan masyarakat.

Muhammadiyah sebagai gerakan modernis-reformis melakukan pembaruan dalam sejumlah bidang kehidupan.      Mukti Ali (1990: 332) menunjukkan bahwa pembaruan  Muhammadiyah  yang menjadi amaliah gerakannya ialah sebagai berikut: (1) membersihkan Islam di Indonesia dari pengaruh dan kebiasaan yang bukan Islam; (2) reformulasi doktrin Islam dengan pandangan alam pikiran modern; (3) reformulasi ajaran dan pendidikan Islam; dan (4) mempertahankan Islam dari pengaruh dan serangan luar.  Berkaitan dengan  upaya mempertahankan Islam dari pengaruh dan serangan luar, Alwi Shihab menunjuk Muhammadiyah sejak kelahirannya  sebagai gerakan yang “membendung arus” perkembangan misionaris Kristen melalui cara-cara yang elegan atau objektif, yakni melakukan kegiatan-kegiatan keagamaan dan kemasyarakatan yang objektif langsung dirasakan masyarakat luas. Tetapi menurut Mukti Ali, ada yang khas dari gerakan Muhammadiyah yang tidak dimiliki oleh gerakan pembaruan Islam di dunia muslim sebelumnya yakni amal sosialnya yang bersifat kelembagaan seperti sekolah dan rumah sakit, serta gerakan perempuannya yaitu ‘Aisyiyah yang menjadi ciri khas pemikiran dan amal Kyai Dahlan.

Shepard (dalam Suha-Taji-Farouki & Basheer M. Nafi, 2004: 74) mengaktegorisasikan Muhammadiyah sebagai kelompok ”Islamic-Modernism”, yang lebih terfokus bergerak membangun “Islamic society” (masyarakat Islam) daripada perhatian terhadap “Islamic state” (negara Islam); yang fokus gerakannya pada bidang pendidikan, kesejahteraan sosial, serta tidak menjadi organisasi politik kendati para anggotanya tersebar di berbagai partai politik. Pandangan modernis tersebut berbeda dengan pandangan sekular  yang memisahkan agama secara diametral dari negara atau sebaliknya pandangan  fundamentalisme-Islam yang menghimpitkan secara sama sebangun antara agama dan negara. Pandangan Muhammadiyah ini dalam konteks sejarah Indonesia menjadi penting selain ikut menyelesaikan ketegangan antara Islam dan negara sebagaimana terjadi pada awal kemerdekaan dalam peristiwa Piagam Jakarta, sekaligus memberikan solusi keagamaan dalam kenegaraan yakni menjadikan Indonesia sebagai format negara yang sah yang berdasarkan Pancasila dan memiliki legitimasi secara teologis dan sosiologis yang kuat untuk menjadi lahan persemaian baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur tanpa harus menjadi negara Islam sebagaimana butir terakhir pernyataan Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah dan salah satu poin dari Kepribadian Muhammadiyah,

Jainuri (2004: 101) memberikan deskripsi  bahwa secara umum orientasi ideologi keagamaan reformis-modernis ditandai oleh wawasan keagamaan yang menyatakan bahwa Islam merupakan nilai ajaran yang memberikan dasar bagi semua aspek kehidupan dan karenanya harus diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Bagi kaum reformis-modernis pengamalan ini tidak hanya terbatas pada persoalan-prsoalan ritual-ubudiyah, tetapi juga meliputi semua aspek kehdupan sosal kemasyarakatan. Selain itu kaum reformis-modernis menerima perubahan berkaitan dengan persoalan-persoalan sosial; memiliki orientasi waktu ke depan serta menekankan progran jangka panjang; bersikap rasional dalam melihat persoalan; mudah menerim pengalaman baru; memiliki mobilitas tinggi; toleran; mudah menyesuaikan dengan lingkungan baru. Pada awal abad keduapuluh sikap ini terlihat pada kaum modernis Muslim yang menerima sebagian unsur budaya Barat modern dalam program sosial dan pendidikan mereka. Mereka ini berkeyakinan bahwa dari manapun asalnya ide atau gagasan itu, selama tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar ajaran Islam, adalah diperbolehkan.

Modernisme atau reformisme yang ditampilkan Muhammadiyah sedikit berbeda dari arus reformisme Islam atau gerakan kebangkitan Islam (al-sahawa al-Islamy) di dunia Islam sebelumnya yang cenderung mengeras dalam ideologi Salafiyah yang kaku. Muhammadiyah dalam pandangan Azyumardi Azra, kendati secara teologis atau ideologis memiliki akar pada Salafisme atau Salafiyah, tetapi watak atau sifatnya tengahan atau moderat yang disebutnya sebagai bercorak Salafiyyah Wasithiyyah (Republika, 13 Oktober 2005: 12). Karena itu, kendati sering diposisikan berada dalam matarantai gerakan pembaruan Islam di dunia muslim yang bertajuk utama al-ruju’ ila al-Quran wa al-Sunnah, Muhammadiyah tidak terlalu kental bercorak gerakan Timur Tengah, karena watak dan orientasi gerakannya lebih lentur dan tengahan.

Wajah modernisme Islam yang ditampilkan Muhammadiyah oleh Nakamura dilukiskan sebagai banyak-wajah. Nakamura (1983: 226) melukiskan sebagai berikut: ”Muhammadiyah adalah gerakan yang menampilkan banyak wajah. Dari jauh nampak doktriner. Tetapi dilihat dari dekat, kita menyadari ada sedikit sistematisasi teologis. Apa yang ada di sana agaknya merupakan suatu susunan ajaran moral yang diambil langsung dari Al-Qur’an dan Hadits. Nampak ekslusif bila dipandang dari luar, tetapi sesungguhnya tampak terbuka bila berada di dalamnya. Secara organisatoris nampak membebani, akan tetapi sebenarnya Muhammadiyah merupakan suatu kumpulan individu yang sangat menghargai pengabdian pribadi. Nampak sebagai organisasi yang sangat disiplin, akan tetapi sebenarnya tidak ada alat pendisiplinan yang efektif selain kesadaran masing-masing. Nampak agresif dan fanatik, akan tetapi sesungguhnya cara penyiarannya perlahan-lahan dan toleran. Dan akhirnya tetapi barangkali yang paling penting, nampak anti-Jawa, akan tetapi sebenarnya dalam banyak hal mewujudkan sifat baik orang Jawa. Barangkali kita bisa mengatakan di sini, kita mempunyai satu kasus dari agama universal seperti Islam yang menjadi tradisi agama yang hidup di lingkungan Jawa.”.

  1. C. PARADIGMA TAJDID

Paradigma gerakan Islam modernis-reformis lebih berorientasi pada substansi dan penerapan nilai-nilai daripada formalisdasi dan struktur, kendati tidak mengabaikan format dan struktur. Kendati gerakan modernis-reformis tidaklah tunggal, tetapi Muhammadiyah dalam dirinya tersirat dan tersurat watak tengahan di banding gerakan-gerakan Islam lainnya. Dengan demikian paradigma modernis-reformis dalam tubuh Muhammadiyah cenderung eklektik atau berada di tengah (tawazun, tawasuth), sehingga dapat dikatakan sebagai berdiri dalam posisi paradigma wasithiyyah. Posisi dan peran tengahan itu bukan berarti kehilangan ketegasan dan jatidiri karena dalam hal-hal prinsip yang fundamental tetap kokoh.

Karakter wasathiyyah atau gerakan ”tengahan” yang menjadi kepribadian dan orientasi gerakan Muhammadiyah ditunjukkan antara lain, pertama dalam jatidirinya selaku gerakan Islam yang sejak awal menampilkan tajdid yang bersifat pemurnian (tajrid, tandhif) sekaligus pembaruan (tajdid, ishlah) secara seimbang. Kedua, dalam strategi dan orientasi gerakannya yang istiqamah sejak kelahirannya memilih jalur dakwah pembinaan masyarakat untuk mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya dan tidak memilih jalan perjuangan politik-praktis di ranah kekuasaan negara sebagaimana halnya partai politik. Ketiga, orientasi pada praksis yakni menghadirkan Islam selain dalam dakwah bi-lisan tetapi lebih penting lagi dalam dakwah bil-hal dengan mendirikan berbagai amal usaha pendidikan, kesehatan, pelayanan sosial, pemberdayaan masyarakat, dan sebagainya. Keempat, menempatkan dan memerankan diri sebagai gerakan pembaruan atau reformisme atau modernisme Islam sepanjang kemauan atau prinsip ajaran Islam. Kelima, kepribadian Muhammadiyah yang diwujudkan dalam sifat-sifat yang menunjukkan sosok tengahan.

Karena posisinya yang tengahan atau moderat, maka paradigma modernis-reformis cenderung eklektik atau berada di antara banyak kutub ekstrem. Dalam tajdid atau pembaruan, menurut Ketua Umum PP Muhammadiyah, M. Din Syamsuddin, ketika membuka Koluqium Pemikiran Islam di UM Malang tahun 2008, tajdid Muhammadiyah itu bersifat baina tajrid wa tajdid (antara pemurnian dan pembaruan). Majelis Tarjih bahkan telah melakukan kodifikasi paradigma tajdid dalam dua orientasi yakni pemurnian (purifikasi) dan pengembangan (dinamisasi). Paradigma tajdid yang berperspektif purifikasi dan dinamisasi itu dalam konteks sosiologi pemikiran Islam sebenarnya termasuk jalan tengah dari kutub ekstrem yang cenderung radikal-tekstual di satu pihak dan radikal-kontekstual di pihak lain, yang menemukan titik temu dalam purifikasi dan dinamisasi.

Tajdid dalam khazanah klasik sendiri sebenarnya memberi peluang pada rentangan pemikiran yang luas. Tajdid bukan sekadar ‘iadat al-syaiy ka al-mubtada (mengembalikan sesuatu pada asal mulanya), tetapi juga bermaka al-ihya (menghidupkan sesuatu yang mati) atau bahkan al-ishlah (membangun, mengembangkan, memperbarui).  Menurut penasihat Pimpinan Pusat Muhammadiyah, bahwa tajdid itu berarti pembaruan; dan dari segi istilah memiliki dua arti yakni (a) pemurnian, dan (b) peningkatan, pengembangan, modernisasi, dan yang semakna dengannya (Abdurrahman, 2007: 285). Tajdid ialah ikhtiar menemukan kembali substansi agama untuk pemaknaan baru  dalam pengungkapannya dalam suatu konteks baru yang berubah, baik melalui purifikasi maupun dinamisasi.  Purifikasi atau pemurnin ialah mengembalikan ajaran Islam pada yang aseli sebagaimana telah ditentukan segala sesuatunya secara baku dalam Al-Quran dan As-Sunnah yang sahih khususnya yang menyangkut ibadah dan akidah. Sedangkan dinamisasi atau pembaruan ialah memperbarui urusan-urusan keagamaan sesuai pesan substansial ajaran Islam, lebih khusus di bidang mu’amalat dunyawiyah  (Anwar, 2005: 71).

Kodifikasi dan konsensus tajdid yang bercorak purifikasi dan dinamisasi tergambar pula dalam keputusan Muktamar ke-45 tahun 2005 di Malang yang telah menggariskan program strategis yaitu “Program Nasional Bidang Tarjih, Tajdid, dan Pemikiran Islam”. Program tersebut memiliki Rencana Strategis, yaitu: Menghidupkan  tarjih, tajdid, dan  pemikiran Islam dalam Muhammadiyah sebagai gerakan pembaharuan yang kritis-dinamis dalam kehidupan masyarakat dan proaktif dalam menjawab problem dan tantangan perkembangan sosial budaya dan kehidupan pada umumnya sehingga Islam selalu menjadi sumber pemikiran, moral, dan praksis sosial di tengah kehidupan masyarakat, bangsa dan negara yang sangat kompleks.”.  Adapun Garis Besar Program: (1) Mengembangkan dan menyegarkan pemahaman dan pengamalan ajaran Islam dalam kehidupan masyarakat yang multikultural dan kompleks; (2) Mensistematisasi metodologi pemikiran dan pengamalan Islam sebagai prinsip gerakan tajdid dalam gerakan Muhammadiyah; (3) Mengoptimalkan peran kelembagaan bidang tajdid, tarjih dan pemikiran Islam untuk selalu proaktif dalam menjawab masalah riil masyarakat yang sedang berkembang; (4) Mensosialisasikan produk-produk tajdid, tarjih dan pemikiran ke-Islaman Muhammadiyah ke seluruh lapisan masyarakat; dan (5) Membentuk dan mengembangkan pusat penelitan, kajian, dan informasi bidang  tajdid dan pemikiran Islam yang terpadu dengan bidang lainnya.

Dengan paradigma yang integratif atau eklektik antara purifikasi dan dinamisasi maka Muhammadiyah dapat melakukan rekonstruksi atau transformasi pemikiran dalam gerakannya. Banyak model paradigma yang dipilih Muhammadiyah, namun jika posisinya modernis atau reformis maka model transformasi dapat menjadi pilihan bagi tajdid Muhammadiyah. Transformasi yang bercorak reformasi biasanya memberikan jalan tengah dalam perubahan antara struktur dan fungsi, sehingga melahirkan perubahan yang sistemik. Tetapi dalam paradigma transformasi selalu terdapat pilihan-pilihan terobosan agar perubahan tidak berjalan lambat atau lamban. Selain itu, dalam model transformasi diperlukan pula penekanan-penekanan dalam mengagendakan perubahan, sehingga terdapat penajaman.

Jika Muhammadiyah dalam usia satu abad menuju ke abad berikutnya bertekad melakukan tajdid jilid kedua maka diperlukan rekonstruksi paradigmatik dalam gerakannya. Muhammadiyah memerlukan reorientasi terhadap gerakannya dengan melakukan transformasi gerakan dalam paradigma yang tetap modert tetapi memerlukan penekanan. Dalam hal ini dapat dipakai model perubahan sebagaima pandangan Yusuf Qaradhawi dan Hasan Hanafi Qaradhawai sebagai pemikiran pembanding. Qaradhawi (2002: 4) menawarkan perubahan sistematik sebagai agenda perubahan atau transformasi dalam gerakan Islam, yakni: (1) Dari format dan simbol menuju hakikat dan substansi, (2) Dari retorika dan perdebatan menuju penerapan dan aksi, (3) Dari sikap sentimentil dan emosional menuju sikap yang rasional dan ilmiah, (4) Dari orientasi ke masalah cabang dan sekunder menuju masalah pokok dan primer, (5) Dari sikap menyulitkan dan menimbulkan antipati menuju pemudahan dan penyebaran kabar gembira, (6) Dari kejumudan dan taklid menuju ijtihad dan pembaruan, (7) Dari fanatisme dan ekslusifisme menuju tolerasnsi dan inklusifisme, (8) Dari sikap berlebihan dan meremehkan menuju moderatisme, (9) Dari kekerasan dan kebencian  menuju kelemahlembutan dan rahmat, dan (10) Dari ikhtilaf dan perpecahan menuju persatuan dan solidaritas. Qaradhawi yang semula menjadi tokoh Ikhwanul Muslimin, terbilang melakukan “hijrah pemikiran” dengan tawaran transformasi gerakan Islam tersebut. Artinya seorang faqih yang kuat rujukan tekstualnya ketika menghadapi dinamika kontekstual yang demikian rupa justru berani melakukan perubahan paradigma pemikiran yang sifatnya tengahan atau moderat tanpa kehilangan fondasi keislaman.

Adapun Hanafi (2000: 11-22) menawarkan konsep rekonstruksi sistem nilai (reconstruction of value-system) menuju kemajuan kaum muslimin menuju peradaban yang unggul dan moderat. Rekonstruksi sistem nilai tersebut dapat menghadang  konservativisme masyarakat-masyarakat tradisional sekaligus juga sekularisme Barat, sehingga Islam tampil sebagai kekuatan perubahan sosial dan kemajuan yang berkelanjutan. Dalam rekonstruksi Islam tersebut dilakukan melalui beberapa aspek dan model: (1) From God to Land (dari Tuhan ke bumi), yang esensinya menurunkan pesan Ilahi untuk mempengaruhi dan mengubah keadaan di bumi manusia, (2) From Eternity to Time (dari keabadian ke waktu), yaitu bagaimana kesadaran akan nilai yang abadi dibumikan menjadi sebuah kenyataan yang memiliki dimensi (waktu) yang realistik, (3) From Predestination to Free Will (dari keterpaksaan menuju kebebasan), yakni dari keadaan yang serba terkekang menuju kebebasan untuk perkembangan atau kemajuan, (4) From Authority to Reason (dari  otoritas menuju penalaran), yakni dari orientasi pada kekuasaan yang cenderung otoritarian ke intelektualitas atau rasionalisasi untuk merencanakan kehidupan, (5) From Theory to Action (dari teori ke tindakan), yakni perubahan dari perdebatan teoritik ke langkah-langkah aksi, (6) From Charisma to Mass-participation (dari kharisma ke partisipasi massa), yakni proses demokratisasi dari pengaruh figur-figur kharismatik menuju partisipasi massa atau jama’ah, (7) From Soul to Body (dari jiwa ke tubuh), yakni dari agama yang terlalu berat mengajarkan spiritualitas jiwa ke kepentingan memenuhi hal-hal fisik agar terjadi kemajuan, (8) From Eschatology to Futurology (dari eskatologi ke futurologi), yaitu dari orientasi ke serba tujuan abadi dengan mengabaikan dunia ke kesadaran masa depan tanpa kehilangan orientasi akhirat.

Kini berkembang sejumlah tawaran bagi Muhammadiyah dalam melakukan reorientasi terhadap gerakan tajdid yang diperankannya. Jalaluddin Rahmat pernah menawarkan formulasi Tauhid Sosial sebagaimana gagasan Dr. M. Amien Rais sebagai blueprint (cetak biru) tajdid Muhammadiyah jilid dua. Ahmad Syafii Maarif menawarkan Muhammadiyah sebagai gerakan ilmu untuk melangkah ke depan di tengah pergulatan pemikiran Islam dan tantangan besar yang demikian kompleks saat ini. Nurcholish Madjid secara isyarat memberikan catatan agar gerakan-gerakan Islam modernis seperti Muhammadiyah memperkaya khazanah keilmuan dan pemikiran agar “kunci” metodologis yang selama ini kuat dimiliki dilengkapi dengan kekayaan materi pemikiran baik yang bersifat pemikiran Islam klasik maupun kontemporer. Tawaran-tawaran pemikiran tersebut berangkat dari penilaian bahwa gerakan Islam modern seperti Muhammadiyah selama ini cenderung terlalu ad-hoc, kaya amal tetapi kering pemikiran, dan kehilangan daya transformasionalnya di tengah perubahan dan perkembangan zaman yang sarat kompleksitas masalah dan tantangan sebagaimana kritik kaum noemodernisme terhadap modernisme.

Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid, M. Syamsul Anwar juga memberikan tawaran bahwa kini tajdid  Muhammadiyah memerlukan pengembangan dari paradigma tajdid juz’i-‘alami (pembaruan praksis amaliah) ke tajdid usuli-nazari (pembaruan pemikiran yang lebih mendasar). Dalam konteks ini secara sistemik tentu saja keseluruhan pengembangan pemikiran tajdid itu berada dalam bingkai dan legalitas organisasi, bukan bersifat perseorangan kecuali untuk wacana dan pengembangan wawasan pemikiran. Tajdid Muhammadiyah bersifat jama’iy atau kolektif, tetapi tentu saja memerlukan etos ijtihad dan sistem yang lebih dinamis agar tidak mengalami kelambanan dan tidak terperangkap pada posisi statis. Sedangkan berbagai variasi dan pengembangan wacana pemikiran sebaiknya diberi ruang yang lebih longgar agar tradisi pemikiran terus berkembang, tentu saja disertai sikap tasamuh dan memiliki pertanggungjawaban intelektual yang tinggi.

  1. D. AGENDA TAJDID

Dalam memasuki fase kedua gerakannya, yakni memasuki abad kedua perjalanan sejarah Muhammadiyah, sudah tinggi waktu dan kesempatan untuk melakukan pembaruan paradigma tajdid di tubuh persyarikatan ini. Kodifikasi dan konsensus tajdid yang terpadu atau eklektik antara purifikasi dan dinamisasi dapat menjadi titik tolak bagi transformasi paradigma tajdid Muhammadiyah. Selain tidak akan terjebak pada ekstrimitas yang radikal baik ke arah “radikal kiri” maupun “radikal kanan” dalam pemikiran Islam, transformasi tajdid yang bercorak purifikasi dan dinamisasi sekaligus memberikan jalan keluar atau solusi untuk melakukan rancang bangun tajdid jilid kedua bagi Muhammadiyah saat ini dan ke depan dalam usianya yang memasuki satu abad menuju era baru abad berikutnya.

Dalam transformasi orientasi tajdidnya, Muhammadiyah di satu pihak tidak terjebak pada pemurnian semata minus pembaruan, sebaliknya pembaruan tanpa peneguhan, sehingga terdapat ruang untuk transformasi atau perubahan secara seimbang antara pemurnian dan pengembangan atau antara peneguhan dan pencerahan. Namun paradigma dan strategi yang eklektik atau tengahan seperti itu jika dibiarkan sekadar normatif belaka  maka hanya akan indah di ranah teori atau klaim tetapi sering tidak aktual atau mewujud dalam kenyataan secara jelas dan tegas. Jika tanpa rancang-bangun yang jelas tajdid purifikasi dan dinamisasi bahkan dapat melahirkan kecenderungan kehilangan dua-duanya, yakni tidak pemurnian sekaligus tidak pembaruan. Di sinilah pentingnya transformasi paradigmatik  dalam orientasi  tanjdid purifikasi plus dinamisasi atau dinamisasi plus purifikasi dalam gerakan Muhammadiyah.

Dalam penyusunan rancang-bangun paradigma tajdid yang integratif atau eklektik antara purifikasi dan dinamisasi, Muhammadiyah diperlukan penyusunan agenda-agenda strategis yang sifatnya menyusun ulang bangunan konseptual yang selama ini telah dimiliki Muhammadiyah dengan keberanian untuk mengambil keputusan tanpa sering terjebak pada sikap mauquf. Jika sejumlah hal mauquf terus maka akan ada kevakuman atau stagnasi dalam gerakan, kendati sikap kehati-hatian itu tetap diperlukan. Namun hati-hati terus menerus tanpa berani mengambil keputusan maka akan menjadi agenda yang tidak berkesudahan, padahal Muhammadiyah harus terus bergerak menghadapi masalah-masalah dan tantangan-tantangan baru.

Dua materi strategis dapat diselesaikan dalam Muhammadiyah menyangkut fondasi pemikiran yang fundamental dalam gerakan Islam ini. Pertama, menyelesaikan atau memulai kembali penyusunan buku Risalah Islamiyah yang berisi tentang Islam dalam berbagai aspeknya yang menjadi pandangan resmi Muhammadiyah. Tanpa memiliki pandangan yang substantif dan komprehensif mengenai Islam maka akan sering terjadi tarik-menarik pandangan dalam Muhammadiyah mengenai hal-hal yang fundamental mengenai aspek-aspek ajaran Islam. Materi dalam al-Masail al-Khamsah (Masalah Lima) mengenai mâ hua al-din (apa itu agama), Matan Keyakinan dan Cita-Cita Hidup Muhammadiyah, Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah, dan berbagai rumusan resmi lainnya dapat menjadi dasar bagi perumusan Risalah Islam dalam pandangan Muhammadiyah. Dalam Risalah Islam itu dibahas dan dijelaskan pula secara komprehensif mengenai pandangan Islam tentang perempuan, sehingga menghasilkan pandangan yang substantif, mendalam,  dan luas dari Muhammadiyah.

Perumusan dan elaborasi Risalah Islam yang komprehensif sekaligus dapat menjadi jawaban atas keperluan Muhammadiyah untuk memberi substansi atas slogan al-ruju’ ila al-Quran wa al-Sunnah sebagaimana selama satu abad perjalanannya telah menjadi ikon sekaligus tema gerakan yang nyaring. Warga Muhammadiyah memerlukan pengetahuan yang luas dan mendalam mengenai isi dan metodologi tentang apa, kenapa, dan bagaimana caranya harus Kembali kepada Al-Quran dan As-Sunnah (yang maqbulah). Jika Muhammadiyah telah meneguhkan dirinya sebagai Gerakan Islam, maka Islam yang seperti apa yang diyakini, dipahami, dan diamalkan oleh Muhammadiyah. Pokok-pokok pikiran tentang Islam sebagaimana terkandung dalam al-Masail al-Khamsah, Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah, Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah, dan sebagainya merupakan materi awal dan pokok untuk kepentingan perumusan dan penyusunan Risalah Islam tersebut. Umat Islam lain dan pihak luar juga dapat memiliki rujukan yang jelas apa dan bagaimana sebenarnya pandangan Muhammadiyah tentang Islam yang bersifat komprehensif.

Kedua, mengembangkan konsep secara tuntas dan luas tentang Manhaj Tarjih mengenai tiga pendekatan dalam memahami Islam yaitu bayani, burhani, dan irfani. Pengembangan yang bersifat elaborasi terhadap manhaj tarjih tersebut sangat diperlukan untuk memperluas cakrawala metodologis dalam pengembangan pemikiran Islam di lingkungan Muhammadiyah. Dengan paradigma purifikasi dan dinamisasi maka pengembangan atau elaborasi pendekatan bayani, burhani, dan irfani akan menghasilkan konstruksi metodologis yang jelas dan luas dari manhaj tarjih. Jangan biarkan di antarea warga Muhammadiyah terjebak pada logika saling sesat-menyesatkan tanpa ilmu hanya karena kehilangan pegangan dan perspektif mengenai metodologi pemikiran Islam yang dipedomani dalam Muhammadiyah.

Elaborasi metodologi bayani, burhani, dan irfani juga diperukan agar diperoleh pedoman yang jelas sekaligus menyelesaikan kontroversi pada masing-masing pendekatan. Ketiga pendekatan yang bersifat integratif tersebut (bayani, burhani, irfani) sebenarnya dapat memecahkan atau merupakan jalan keluar dari kebuntuan atau ekstrimitas yang selama ini menjadi bagian yang dianggap krusial dalam dunia pemikiran Muhammadiyah antara garis ekstrem kelompok radikal-tekstual versus radikal-kontekstual atau kategori lain yang sejenis yang saling berlawanan secara diametral. Langkah yang diperlukan ialah pertama melakukan teoritisasi di mana ketiga pendekatan tersebut ditarik ke level epistemologi agar manhaj Tarjih, Tajdid, dan Pemikiran Islam dalam Muhammadiyah memiliki bangunan epistemologis yang kokoh dan berada dalam paradigma perspektivisme (banyak perspektif, tidak tunggal) baik yang terintegrasi dengan ilmu-ilmu Islam klasik maupun kontemporer. Kedua, elaborasi metodologis, yakni menurunkan kerangka berpikir pada ketiga pendekatan tersebut ke dalam berbagai cara berpikir (metode) yang lebih detail terutama ketika menjelaskan dimensi-dimensi ajaran Islam seperti aqidah, ibadah, akhlak, dan mu’amalat-dunyawiyah pada tataran praksis. Dengan demikian diperoleh perspektif pengembangan pemikiran Islam yang komprehensif dan memiliki landasan yang kokoh dalam ajaran Islam.

Ketiga, mengagendakan tajdid di bidang dakwah, organisasi, amal usaha, pengembangan kader dan anggota, dan berbagai model aksi gerakan agar Muhammadiyah tampil menjadi gerakan Islam yang unggul dan bergerak di garis depan dalam dinamika kehidupan umat, bangsa, dan perkembangan global. Modsel modernis-reformis perlu dikembangkan menjadi model transformatif yang lebih dinamis, kaya pemikiran, dan langsung ke jantung persoalan-persoalan struktural dan kultural dalam mencari solusi atas masalah-masalah yang terjadi dalam masyarakat. Muhammadiyah dengan seluruh komponen dan lini organisasinya tidak cukup memadai hanya bertahan dengan strategi dan model gerakan seperti sekarang ini, yang cenderung formalistik, rutin, dan bertahan dengan status-quo yang dimiliki. Muhammadiyah sebagai organisasi dituntut untuk tampil lebih reformis, produktif, emansipatoris, dan partisipatoris di tengah lalulintas dinamika gerakan-gerakan keagamaan dan gerakan-gerakan sosial-kemasyarakatan yang semakin kompetitif saat ini.  Muhammadiyah bahkan perlu memiliki militansi yang lebih kuat agar kebesaran dirinya tidak kalah lincah dan dinamis dari gerakan-gerakan lain di negeri ini, yang dalam bahasa Pak AR Fakhruddin (Allahu yarham) tidak menjadi gajah bengkak yang besar tetapi lambat bergerak.

  1. E. PENUTUP

Muhammadiyah sebagai gerakan Islam modernis-reformis telah mengukir kisah sukses melakukan perubahan ke arah kemajuan dalam kehidupan umat/masyarakat dari kondisi tradisional ke kemajuan selaras dengan tuntutan zaman. Dengan semangat kembali pada sumber ajaran Islam yang murni (al-Quran dan al-Sunnah yang maqbulah) Muhammadiyah mampu memperbarui alam berfikir dan model amaliah umat Islam dalam sejumlah bidang kehidupan seperti pendidikan, gerakan perempuan, pelayanan kesehatan dan sosial, pemberdayaan masyarakat, di samping pemurnian akidah dan ibadah serta pembinaan akhlak Islami. Muhammadiyah dalam konteks kehidupan masyarakat telah berhasil memodernisasi kehidupan sosial dengan tetap mengokohkan fondasi  iman dan kepribadian, sehingga mampu menampilkan Islam yang murni dan berkemajuan.

Kini dalam usia satu abad Muhammadiyah dihadapkan pada masalah dan tantangan baru dalam kehidupan umat, bangsa, dan dunia kemanusiaan yang semakin kompleks. Muhammadiyah dengan paradigma tajdid yang berwawasan modernisme-reformisme dituntut untuk memperkaya dan mempertajam orientasi tajdidnya yang bersifat pemurnian dan pengembangan, sehingga mampu menjadi gerakan alternatif di tengah lalulintas berbagai gerakan Islam dan gerakan sosial-kemasyarakatan yang pusparagam. Masalah demokrasi, hak asasi manusia, dan kesadaran baru di tengah arus globalisasi memerlukan penghadapan tajdid Muhammadiyah. Hal serupa diperlukan ketika menghadapi masalah krisis moral dan spiritual yang diakibatkan oleh kehidupan modern yang kehilangan keseimbangan dalam peradaban umat manusia.

Dalam menghadapi berbagai masalah dan tantangan zaman yang kompleks itu serta pentingnya pengayaan dan penajaman tajdid purifikasi dan dinamisasi Muhammadiyah perlu melakukan revitalisasi atau penguatan atas berbagai aspek organisasinya. Reformulasi konsep Risalah Islam dan Manhaj Tarjih diperlukan sebagai fondasi sekaligus bangunan epistemologi dan metodologi dalam melakukan tajdid sekaligus menjadi pedoman bagi segenap warga Muhammadiyah dalam menghadapi arus perubahan zaman yang hadir di era modern abad ke-21 saat ini. Dengan konstruksi tajdid jilid kedua yang dikembangkannya Muhammadiyah diharapkan mampu melahirkan profil masyarakat yang khaira ummah sekaligus menampilkan Islam sebagai agama pembawa rahmatan lil-‘alamin.

Pustaka

Achmad Jainuri, Ideologi Kaum Reformis: Melacak Pandangan Keagamaan Muhammadiyah Periode Awal,  Surabaya,  lpam, 2002

Anthony Giddens, Sociology, Cambridge, Polity Press,  1993.

A. Mukti Ali, ”Amalan Kyai Haji Ahmad Dahlan”, dalam Sujarwanto & Haedar Nashir, Muhammadiyah dan Tantangan Masa Depan, Yogyakarta, Tiara Wacana, 1990.

Asymuni Abdurrahman,  Manhaj Tarjih Muhammadiyah: Metodologi dan Aksi, Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2007.

Ebrahim Moosa, Fazlur Rahman: Kebangkitan Dan Pembaharuan Di Dalam Islam, terjemahan, Bandung, Penerbit Pustaka, 2000.

Edgar F. Borgatta, editor, Encyclopedia Of Sociology, Volume 3, New York, Macmillan Publishing Company,  1992.

Hassan Hanafi, Islam In The Modern World: Religion, Ideology and Development, Vol. I., Cairo, Dar Kebaa Bookshop, 2000.

James L. Peacock, Gerakan Muhammadiyah Memurnikan Ajaran Islam Di Indonesia, Jakarta, Cipta Kreatif, 1986.

M. Syamsul Anwar, “Manhaj Ijtihad / Tajdid dalam Muhammadiyah”, dalam Mifedwil Jandra & Safar Nasir, editor, Tajdid Muhammadiyah untuk Pencerahan Peradaban, Yogyakarta, UAD Press,  2005.

Mitsuo Nakamura, Bulan Sabit Muncul Dari Balik Pohon Beringin, terjemahan M. Yusron Asrofie, Yogyakarta, Gadjah Mada University Press, 1983.

Muhammad Azhar &  Hamim Ilyas, editor, Pengembangan Pemikiran Keislaman Muhammadiyah: Purifikasi & Dinamisasi, Yogyakarta,  LPPI, 2000.

Muhammad Hamid an-Nashir, Menjawab Modernisasi Islam: Membedah Pemikiran Jamaluddin Al-Afghani Hingga Islam Liberal, terjemahan dari Al-Ashraniyun Baina Maza’im at-Tajdid wa Mayadin at-Taghrib, Jakarta, Darul Haq, 2004.

William Shepard, “The Diversity of Islamic Thought: Towards a Typology”, dalam Suha Taji-Farouki and Basheer M. Nafi, Islamic Thought In The Twentieth Century,  New York, IB. Tauris & Co Ltd., 2004.

Yusuf Al-Qaradhawi, Kebangkitan Gerakan Islam: Dari Transisi Menuju Kematangan, terjemahan H. Abdullah Hakam Shah, Lc.  dan HM. Aunul

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: