Muhammadiyah dan Masyarakat Informasi

Oleh: M Nurul Yamien
(Sekretaris Majelis Pemberdayaan Masyarakat PP Muhammadiyah)

Muktamar ke-46 Muhammadiyah Tahun 2010 atau Muktamar Satu Abad Muhammadiyah tinggal hitungan hari. Memasuki abad kedua, organisasi berlambang matahari ini dipastikan dihadapkan pada tantangan yang jauh berbeda jika dibandingkan perjalanan sejarah satu abad sebelumnya. Di sinilah, Muktamar Satu Abad Muhammadiyah menemukan momentum strategisnya sebagai ajang evaluasi gerakan Muhammadiyah sekaligus menyikapi perubahan secara dinamis sebagai implementasi dari ciri tajdid yang dimilikinya. Dengan semangat tajdidiyah, diharapkan pada muktamar yang akan datang muncul gagasan ataupun pemikiran yang jauh lebih obsesif untuk melakukan rekonstruksi gerakan Muhammadiyah sehingga gerakan Muhammadiyah pada abad kedua tampil dengan paradigma baru.

Salah satu kecenderungan global peradaban manusia ke depan adalah perkembangan sains dan teknologi, khususnya teknologi komunikasi dan informasi. Kemajuan peradaban manusia di bidang teknologi komunikasi dan informasi oleh Toffler (2003) disebutnya sebagai era reformasi gelombang ketiga atau juga sering disebut sebagai revolusi industri II.

Kemajuan di bidang teknologi komunikasi dan informasi mampu menembus batas-batas teritorial, norma, dan nilai sehingga mampu mengubah gaya hidup manusia modern dan membawa berbagai perubahan dan implikasi-implikasi tertentu dalam kehidupan masyarakat. Informasi telah menjadi salah satu kebutuhan pokok sehari-hari, selain sembako dan peradaban manusia menuju peradaban baru yang disebut sebagai masyarakat informasi (information society ).

Di dunia akademis, konvergensi teknologi untuk kepentingan informasi biasa dilakukan oleh para mahasiswa dan dosen untuk mendapatkan berbagai referensi tanpa perlu secara fisik hadir di perpustakaan. Mereka cukup menggunakan sebuah komputer yang tersambung internet. Konvergensi teknologi komunikasi bagi kepentingan kendali sering digunakan eksekutif perusahaan. Para eksekutif ini mengendalikan beberapa perusahaan yang tersebar di beberapa tempat dengan hanya duduk dan berdialog melalui teknologi komunikasi mutakhir. Kedua, digitalisasi. Perubahan dari teknologi analog ke digital memungkinkan komunikasi memuat informasi yang sangat kaya dari segala jenis data secara bersama, digabung atau dikonversikan, dan dapat disajikan dalam segala bentuk.

Ketiga, teknologi jaringan. Perkembangan teknologi komunikasi dan informasi jaringan memungkinkan membangun jalan raya informasi bebas hambatan ( information super highway ) dengan keterkaitan antara jaringan lokal, metropolitan, nasional, dan internasional. Teknologi jaringan mengingatkan kita tentang  global village atau kampung dunia yang dikemukakan oleh pakar komunikasi Marshall McLuhan. Pada masa itu, mungkin kita tidak perlu marah kalau dikatakan ‘kampungan’ karena toh semua pada saat itu memang telah menjadi ‘kampungan’.

Keempat, pengembangan multimedia. Pengembangan multimedia akan membuat media komunikasi massa yang saat ini kita kenal sebagai pertanda kehidupan modern (seperti surat kabar, televisi, radio, film, dan sebagainya) oleh Aston & Schwarz (1995) dikatakan untuk bersiap-siap sebagai media ‘tradisional’. Wartawan surat kabar, radio, dan televisi pun pada saatnya harus siap mental untuk disebut sebagai pekerja media ‘tradisional’, yang mirip-mirip dengan media komunikasi tradisional yang selama ini kita kenal, misalnya sinden atau dalang yang memang menggeluti dunia komunikasi tradisional yang sarat dengan nilai-nilai luhur. Bedanya, kalau yang satu menjadi ‘tradisional’ karena konsekuensi perkembangan teknologi komunikasi, sedangkan yang satunya lagi memang dari sananya sudah tradisional.

Kecenderungan masyarakat informasi sebagaimana disebutkan di atas tidak hanya menuntut perubahan paradigma pada kehidupan organisasi, tetapi juga berdampak pada level kehidupan individu dan keluarga. Kemampuan umat manusia mengembangkan sains dan teknologi ternyata tidak seimbang dengan kemampuannya untuk mereduksi akibat samping dari penggunaan teknologi itu sendiri. Dengan demikian, perkembangan teknologi komunikasi dan informasi bak pisau bermata dua yang masing-masing sisinya sama tajamnya.

Agenda Muhammadiyah
Ke depan, Muhammadiyah dihadapkan pada realitas peradaban masyarakat informasi yang kalau tidak diantisipasi akan menenggelamkan Muhammadiyah menjadi ‘organisasi tradisional’ karena percepatan gerak peradaban sejarah teknologi komunikasi dan informasi. Oleh karena itu, Muhammadiyah harus menempatkan persoalan teknologi komunikasi dan informasi menjadi salah satu agenda penting pada abad kedua Muhammadiyah dengan berbagai langkah antisipatif sebagai berikut.

Pertama, kesiapan sumber daya manusia yang berorientasi pada penguatan penguasaan teknologi komunikasi dan informasi. Kedua, manajemen berbasis teknologi dan jaringan. Dengan manajemen berbasis teknologi dan jaringan, proses penyebaran informasi timbal balik dan menyeluruh dari dan ke seluruh  stakeholders Muhammadiyah akan menjadi lebih cepat dan merata. Muhammadiyah harus mengoptimalkan peran perguruan tinggi Muhammadiyah yang memiliki prodi teknologi informasi dalam memajukan dan memodernkan manajemen organisasi Muhammadiyah. Ketiga, revitalisasi media massa Muhammadiyah. Keempat, dari dakwah verbal manual ke dakwah digital.

Akhirnya, hanya waktu dan sejarahlah yang akan membuktikan apakah Muhammadiyah akan tetap mempertahankan karakter tajdidiyahnya atau tenggelam menjadi ‘tradisional’ karena percepatan pergerakan sejarah peradaban manusia.

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: