Muhammadiyah dan NU Harus Berani

YOGYAKARTA, KOMPAS – Organisasi keagamaan, khususnya Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama, perlu lebih berani menyuarakan kritik pada kebijakan pemerintah ataupun penyelewengan di masyarakat. Dengan banyaknya anggota, suara organisasi keagamaan mempunyai kekuatan memperbaiki bangsa.

Hal itu terungkap dalam diskusi bertema ”Muhammadiyah Abad Ke-2: Welfare State dan Gerakan Sosial” di Yogyakarta, Kamis (15/4). Diskusi diselenggarakan menjelang Muktamar 100 Tahun Muhammadiyah pada 3-8 Juli 2010 di Yogyakarta.

”Dengan jumlah pengikut Nahdlatul Ulama (NU) sekitar 45 juta orang dan Muhammadiyah yang sekitar 25 juta orang, suara NU dan Muhammadiyah akan mempunyai dampak besar pada kelangsungan negara,” kata Zuli Qodir, peneliti Islam, yang juga moderator diskusi itu.

Ketua PWNU DI Yogyakarta Mochammad Maksum mengatakan, selama ini organisasi keagamaan cenderung diam saat krisis sosial dan krisis moral. Padahal, keberanian organisasi keagamaan untuk bersuara makin dibutuhkan karena krisis demikian parah, seperti terlihat dari berbagai masalah, di antaranya korupsi besar-besaran, layanan pendidikan dan kesehatan yang tidak memenuhi standar, hingga berkurangnya simpati dan empati.

Menurut Maksum, beberapa tahun terakhir ini, organisasi keagamaan melenceng dari tujuan awal, yaitu mendorong terciptanya masyarakat yang adil dan sejahtera. Organisasi keagamaan semakin sibuk pada kegiatan politik sehingga kurang memerhatikan kondisi masyarakat.

Badan-badan usaha organisasi keagamaan pun semakin memperlihatkan kecenderungan mencari keuntungan daripada memberi pelayanan kepada masyarakat miskin. ”Rumah sakit milik organisasi keagamaan, misalnya, perlu dipertanyakan apakah masih bertujuan melayani masyarakat miskin atau lebih untuk cari untung,” ujarnya. Untuk mengatasinya, organisasi keagamaan perlu kembali menjadi gerakan sosial sehingga tidak terjebak pada kepentingan mencari profit ataupun politik praktis.

Terkait hal itu, Ketua PP Muhammadiyah Haedar Nashir mengatakan, saat ini Muhammadiyah tengah menghadapi tantangan baru karena bergesernya permasalahan di masyarakat menjadi persoalan-persoalan yang bersifat struktural. Akibatnya, permasalahan yang dihadapi Muhammadiyah menjadi semakin rumit.

”Kami berhadapan dengan permasalahan yang bersifat struktural yang tidak bisa dipecahkan dengan hanya mendirikan sekolah atau rumah sakit saja,” ujarnya. (IRE)

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: