Peran Organisasi Islam Merosot NU dan Muhammadiyah Dinilai Alami Demoralisasi

Jakarta, Kompas – Pascareformasi, Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah sebagai organisasi sosial keagamaan besar di Indonesia mengalami demoralisasi. Peran kedua organisasi itu dalam masalah sosial keagamaan semakin berkurang karena perhatian tersita pada masalah politik.

Penilaian itu mengemuka dalam seminar ”Membincang Ulang Peran Sosial-Politik Organisasi Keagamaan” di Gedung Widya Graha Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Jakarta, Kamis (11/3). ”Ada demoralisasi dalam tubuh NU dan Muhammadiyah pascareformasi,” kata Guru Besar Ilmu Politik Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Bahtiar Effendy yang menjadi pembicara.

Demoralisasi itu terbukti dengan tidak adanya kepatuhan anggota organisasi kepada pimpinan ataupun santri kepada kiai. Saat ini, kebijakan atau fatwa pimpinan organisasi jarang sekali didengar oleh anggotanya.

”Bisa jadi fatwa merokok haram yang dikeluarkan Yunahar Ilyas (Ketua PP Muhammadiyah) tidak didengarkan. Jangan-jangan Malik Fadjar (Ketua PP Muhammadiyah) malah keluar dari Muhammadiyah gara-gara fatwa itu,” tutur Bahtiar.

Contoh lain bisa dilihat pada saat Pemilu 2009. Ketika itu, para pengurus NU dan Muhammadiyah mendukung Jusuf Kalla menjadi presiden. Namun, hasil pemilu presiden menunjukkan, mayoritas warga NU dan Muhammadiyah memilih Susilo Bambang Yudhoyono.

Selain itu, NU dan Muhammadiyah juga tidak lagi diperhitungkan dalam politik kebangsaan. Hal itu terbukti dengan tidak dilibatkannya NU dan Muhammadiyah dalam penyusunan Kabinet Indonesia Bersatu II. Padahal, pada pemerintahan Orde Baru, NU dan Muhammadiyah selalu mendapat jatah kursi menteri.

Bahtiar menengarai, demoralisasi itu terjadi lantaran menurunnya peran NU dan Muhammadiyah dalam masalah sosial dan keagamaan. Pascareformasi 1998, perhatian kedua organisasi itu tersedot ke politik. Tidak sedikit pengurus, termasuk para ulama, yang terjun ke ranah politik praktis.

Pada awal reformasi tahun 1999, M Amien Rais yang saat itu memimpin Muhammadiyah mendirikan Partai Amanat Nasional. Para tokoh NU juga mendirikan sejumlah partai politik.

Aktivitas politik praktis itulah yang menyebabkan peran sosial keagamaan NU dan Muhammadiyah semakin merosot dalam 12 tahun terakhir. Baik NU maupun Muhammadiyah tidak lagi kreatif membangun masyarakat, seperti pada awal Orde Baru ketika peran politik mereka dibatasi. Saat itu, NU dan Muhammadiyah lebih banyak berkiprah di masyarakat dengan membangun sekolah, rumah sakit, dan fasilitas pelayanan masyarakat lainnya.

Demokratisasi

Kepala Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan LIPI Abdul Rachman Patji mengatakan, keberadaan gerakan Islam pascareformasi justru mampu mendorong demokratisasi. Bukan hanya NU dan Muhammadiyah, tetapi juga kelompok lain muncul pascareformasi, seperti Majelis Mujahidin Indonesia, Hizbut Tahrir Indonesia, Jaringan Islam Liberal, dan Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah. (NTA)

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: