Faham Kekerasan Dapat Dilunakkan, Ideologi Sulit

Jakarta, Kompas – Persoalan terorisme di Indonesia amat terkait dengan ideologi yang dianut pelakunya. Pemberantasan terorisme melalui pendekatan legal formal, seperti operasi polisi, tidak akan efektif memupus ideologi tersebut. Meski demikian, jika ada intervensi khusus dari negara, setidaknya faham penggunaan kekerasan oleh kelompok radikal dapat diperlunak.

Demikian rangkuman pembicaraan dengan Buya Syafii Ma’arif dan Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Komarudin Hidayat di Jakarta, Kamis (11/3), serta hasil penelitian psikolog asal Universitas Indonesia, Sarlito Wirawan Sarwono, yang berjudul Program Re-edukasi untuk Para Tahanan atau Napi Teroris (1 Oktober 2009).

Dari penelitian Sarlito terhadap 44 tahanan dan narapidana perkara terorisme terungkap, ideologi yang dianut mereka sudah terbilang ”harga mati”. Prinsip ini khususnya dianut napi/tahanan yang tergolong papan atas dalam aktivitas gerakan mereka. Salah satu contohnya ada Abu Dujana.

Meski demikian, Sarlito menyebutkan, jika pada tataran ideologis sulit ditembus, para napi/tahanan terorisme itu masih bisa diajak berdiskusi pada isu tataran aplikatif-operasional, misalnya soal membunuh, mengebom, atau penggunaan kekerasan lainnya. Dengan begitu, pada tahap ini, para napi/tahanan itu mulai dapat diajak berpikir kritis terhadap berbagai hal. Sebab, tidak adanya kemampuan berpikir kritis menyebabkan mudah sekali seseorang terjebak dalam aliran yang ekstrem dogmatis.

Syafii mengingatkan masyarakat agar jangan lengah terhadap kelompok teroris. Namun, bangsa ini juga jangan lengah terhadap ketidakadilan dan kemiskinan yang menjadi akar dari munculnya terorisme di Indonesia.

”Ideologi sesat yang dianut anak-anak muda pelaku teror itu memang sulit diberantas. Karena itu, penumpasannya tidak cukup sekadar memburu dan menangkap, tetapi juga harus berani melihat dan menuntaskan akar masalah terorisme di Indonesia,” tutur Syafii yang menambahkan bahwa Densus 88 juga patut diacungi jempol.

Menurut Syafii, pengikut kelompok teroris sebetulnya sangat kecil apabila dibandingkan dengan penduduk Indonesia. Selain itu, keadaan teroris di seluruh dunia juga agak terdesak saat ini.

Ia menyayangkan juga semangat besar dari anak muda, tetapi harus menempuh jalan yang salah. Anak-anak muda yang potensial itu ternyata tergiur mengambil jalan pintas dengan menganggap penegakan syariah Islam sebagai satu-satunya solusi untuk menyelesaikan semua masalah kehidupan ini.

Komarudin mengakui, terorisme sulit diberantas tuntas dan selalu bisa tumbuh kembali karena sudah terjadi fiksasi stigma soal Barat atau Amerika Serikat yang menindas umat Islam meskipun itu secara empirik terjadi di negeri lain, bukan Indonesia.(SF/MAM/NEL)

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: