Rekonstruksi Pemahaman Agama

DODY WISNU PRIBADI

Kekerasan agama masih menjadi masalah sosial di Indonesia. Kekerasan agama bisa dilihat sebagai realitas eksternal manusia yang menjadi wujud pelepasan hasrat merusak. Ini tentu teramat merisaukan.

Padahal, kata Syamsul Arifin, guru besar Universitas Muhammadiyah Malang, dalam agama terdapat realitas keberagaman atau kemajemukan. Beda pandangan kelompok masyarakat terhadap kenyataan akan keberagaman itulah yang selama ini jadi sumber pemicu kekerasan. Padahal, ide dasar agama sejak semula adalah kumpulan visi, misi, dan aksi tentang ketuhanan dan kemanusiaan universal. Inilah yang jadi pertanyaan, bagaimana mungkin malah menjadi inspirasi kekerasan.

Menurut Syamsul, akibat keberagaman itu sebenarnya tidak ada masyarakat yang bisa terhindar dari konflik, setidaknya terhadap konflik yang terkategori unreal conflict atau konflik laten, yakni konflik yang berasal dari kesalahpahaman terhadap kelompok lain. Bila ada pemicu peristiwanya, konflik laten ini bakal berubah menjadi konflik nyata.

Syamsul menilai bahwa setiap komunitas agama sebenarnya telah ada semacam konstruksi budaya yang dapat menggiring pada tindakan kekerasan. Dia menemukan ”konstruksi” ini berasal dari model studi agama yang dipakai oleh masyarakat atau individu tentang ”konstruksi agama yang dipeluknya” dan ”konstruksi agama lain yang tidak dipeluknya”.

Pada proses studi tersebut, katakanlah oleh didikan orang tua, ceramah radio, pendidikan di lingkungan rumah ibadah, sering kali muncul beda pandangan atau pandangan yang cenderung menegasikan kebenaran agama lain. Bila komunitas agama terjebak pada beda pandangan itu, dan bila ditambahi bumbu tarik-menarik kuasa politik atau ekonomi, maka konflik realistik pun bisa terjadi.

Berikut pandangan Syamsul yang dikenal guru besar cukup muda di dunia pendidikan.

Di mana pluralisme bisa diletakkan dalam situasi yang terus-menerus terancam oleh unreal conflict pembentukan kekerasan agama?

Saya memahami pluralisme sebagai suatu horizon pemikiran, suatu perspektif, tentang betapa sebenarnya kita harus menyadari adanya kondisi obyektif tentang ”perbedaan dan keberagaman” dalam beragama. Artinya, masyarakat harus menyadari adanya keberagaman yang harus dihargai. Bahkan keberagaman ini harus dijamin negara.

Penolakan terhadap pluralisme karena pemahaman bahwa pluralisme hendak menyatakan bahwa semua agama sama.

Pluralisme harus dipahami bukan dengan memandang bahwa semua agama sama. Sebab, bila pluralisme dilihat dengan cara pandang seperti itu, secara tidak langsung telah mengabaikan kenyataan obyektif tentang perspektif lain dalam beragama. Pluralisme adalah pemberian pengakuan bahwa dalam hidup ini niscaya ada perbedaan.

Setelah pengakuan itu, ada prinsip penghargaan terhadap pihak lain. Penghargaan terhadap pihak lain tersebut bisa diwujudkan dalam bentuk kritik dan pertanyaan. Namun, sikap ini dilakukan dalam bentuk yang elegan.

Bukankah ada hal-hal yang demikian prinsip berbeda di antara agama-agama, yakni iman dan keyakinan?

Pada setiap agama ada titik esoteris, titik yang memungkinkan adanya pertemuan atau titik temu. Namun, juga ada titik eksoteris, titik yang tak memungkinkan terjadinya pertemuan. Mari kita fokuskan pada titik temu, yakni titik kerja sama. Titik yang dapat diterjemahkan sebagai ”dasar cita-cita semua agama”. Misalnya, penghargaan kepada kemanusiaan, keadilan, kehidupan sosial yang damai, perlindungan terhadap perempuan dan anak-anak, dan semua nilai kemanusiaan. Sangat jarang kita bisa temukan pencampuradukan nilai pada tingkat akidah yang amat berbeda. Namun, pada tingkatan sosial sangat mungkin pada masyarakat satu dengan yang lain terjadi pertemuan. Pada ruang sosial inilah pluralisme mendapat tempat dan menjadi dasar dari harmonisasi kehidupan sosial.

Bagaimana pembelajaran mengenai cara pandang demikian di masyarakat?

Tanpa mengesampingkan faktor kesenjangan ekonomi atau politik yang mungkin saja memberikan kontribusi terhadap munculnya konflik dan kekerasan agama, kita melihat pentingnya upaya sistematis untuk melakukan rekonstruksi, pembangunan kembali paham keagamaan.

Dari semula paham keagamaan eksklusif menjadi paham keagamaan yang inklusif, hingga mendorong hubungan dialogial. Bahkan, lebih jauh lagi adanya kerja sama antarumat beragama, tanpa perlu meninggalkan identitas keagamaan masing-masing, terutama identitas di wilayah kredo dan ritual. Pada situasi demikian, harapan terbesar kita ajukan kepada lembaga pendidikan. Pendidikan adalah tempat persemaian budaya nirkonflik dan nirkekerasan.

Bagaimana penjelasannya?

Pendidikan sudah lama dilihat sebagai solusi bagi situasi ini. Sebab, pendidikan adalah medan pembentuk dan pencetak konstruksi pandangan terhadap agama dan umat agamanya sendiri serta agama dan umat agama lain. Yakni, pendidikan yang mendorong pada upaya menemukan kemungkinan pertemuan agama-agama yang didasarkan pada kesatuan orientasi transendental. Intinya, agar studi agama-agama pada masa depan lebih diorientasikan pada upaya mencari titik temu daripada memperdebatkan perbedaan. Tawaran ini tentu tidak dimaksudkan untuk mengutak-atik ranah kredo dan ritual yang telah dipahami sebagai sesuatu yang absolut oleh setiap komunitas agama.

****

Prof Dr Syamsul Arifin M Si

• Tempat, Tanggal Lahir: Sampang, 22 Desember 1967

• Jabatan:

– Ketua Program Studi Magister Ilmu Agama Islam – Wakil Direktur Bidang Akademik Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang

• Pendidikan: – S-1 IAIN Sunan Ampel Fakultas Tarbiyah di Malang (1991) – S-2 Sosiologi Pedesaan Universitas Muhammadiyah Malang (1996) – S-3 IAIN Sunan Ampel Surabaya (2004)

• Buku:
– ”Menggagas Ukhuwah NU dan Muhammadiyah”. Dalam Ma’mun Murod al-Barbasy, dkk (Ed), Muhammadiyah-NU: Mendayung Ukhuwah di Tengah Perbedaan (UMM Press, Malang, 2004, hal 9-20)
– Islam Indonesia (UMM Press, 2004
– Studi Agama: Perspektif Sosiologis dan Isu-isu Kontemporer (UMM Press, 2009

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: