Sepasang “Sandal” Penjaga Umat

Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah adalah organisasi massa Islam yang usianya jauh lebih tua dari usia Republik Indonesia. Selama perjalanannya, kedua organisasi ini konsisten menjaga umat dan bangsa meski sering kali tak berjalan mulus.

”NU-Muhammadiyah itu ibarat sepasang sandal bagi bangsa Indonesia. Antara bagian kanan dan kirinya berbeda, tetapi ia harus digunakan bersama,” kata Ketua Umum Pengurus Besar NU KH Hasyim Muzadi saat menerima kunjungan rombongan Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang dipimpin Ketua Umum-nya Din Syamsuddin di Kantor PBNU, Jakarta, Sabtu (19/12).

Sebagai sepasang sandal, ia harus digunakan bersama, tidak mungkin hanya digunakan sebelah bagian saja. NU dekat dengan kalangan masyarakat pedesaan, sedangkan Muhammadiyah akrab dengan kelompok masyarakat perkotaan. Sulit bagi tiap-tiap kelompok itu untuk berdakwah di luar kelompok masyarakat yang selama ini telah menjadi domainnya.

Kunjungan itu dilakukan dalam rangka Peringatan Bersama Tahun Baru 1 Muharam 1431 Hijriah. Tahun sebelumnya, peringatan itu dilakukan di Kantor PP Muhammadiyah dengan tamu delegasi dari PBNU. Saling kunjung itu diharapkan bisa menjadi upaya mengeratkan dan mengharmoniskan hubungan antara NU dan Muhammadiyah meskipun berbagai perbedaan di antaranya tak mungkin dihilangkan.

Namun, keakraban di antara elite NU dan Muhammadiyah itu bukanlah cerminan kondisi sebenarnya di antara warga NU dan Muhammadiyah, seperti yang diungkapkan salah satu anggota rombongan dari Muhammadiyah. Di beberapa daerah, perseteruan warga dari dua aliran keagamaan itu bak api dalam sekam.

Ketidaksukaan di antara mereka memang jarang menimbulkan konflik terbuka seperti yang terjadi terhadap sejumlah kelompok agama lainnya. Perseteruan umumnya berakhir dengan ”perceraian” dalam hubungan sosial kemasyarakatan, seperti mendirikan masjid sendiri meskipun lokasinya bersebelahan atau menolak bergabung dalam kegiatan-kegiatan sosial yang diselenggarakan kelompok lain.

Persoalan klasik

Ketidakcocokan itu hingga kini masih didasari oleh persoalan klasik berupa pemahaman dan proses ritual agama yang berbeda. Kondisi itu jelas berbeda dibandingkan kecemburuan sosial yang terbangun pada masa Orde Baru yang dibungkus dengan kecemburuan politik.

Saat itu warga NU benar-benar termarjinalkan, baik dari sisi ekonomi, pendidikan, maupun politik. Sementara warga Muhammadiyah dinilai lebih beruntung karena lebih dekat dengan kekuasaan. Kondisi itu setidaknya terlihat dari penunjukan menteri agama selama Ode Baru yang biasanya diberikan Presiden Soeharto kepada kader Muhammadiyah.

Di luar persoalan klasik itu, kedua ormas Islam ini sebenarnya menghadapi persoalan yang sama saat ini, yaitu merebaknya aliran keagamaan yang cenderung eksklusif dan menolak akar budaya bangsa. Mereka sama-sama dihadapkan pada pengaruh paham keagamaan yang keras dan merebak tak hanya di wilayah perkotaan, tetapi juga hingga ke pelosok kampung.

Din mengingatkan, ”Ormas itu hanya alat, bukan tujuan, apalagi kalau dijadikan agama.” Karena itu, ketegangan di antara warga dua ormas itu harus diselesaikan bersama demi menghadapi persoalan bersama yang jauh lebih berat.

Pertentangan antara sebagian warga NU dan Muhammadiyah itu dinilai Din terjadi akibat kesalahpahaman dan kurangnya toleransi terhadap pemahaman kelompok lain. Dengan silaturahim di antara para elitenya, warga kedua ormas itu di tingkat akar rumput diharapkan akan mengikuti jejak itu.

Di luar persoalan keagamaan, NU dan Muhammadiyah juga perlu lebih menunjukkan kepeduliannya terhadap berbagai persoalan bangsa. Maraknya korupsi, kolusi dan nepotisme berbaur dengan persoalan perubahan sosial yang dihadapi umat.

Masyarakat dihadapkan pada gencarnya kecenderungan materialisme, konsumerisme dan budaya inderawi yang semakin jauh dari nilai-nilai agama.

Semua persoalan itu membutuhkan benteng rohani yang kokoh bagi setiap warga negara. Kemiskinan, rendahnya kesejahteraan, dan tingkat pendidikan harus dijawab kedua pimpinan ormas itu agar warganya mandiri secara ekonomi, berdaya, dan berkemajuan. Para juru dakwah NU dan Muhammadiyah juga harus mampu memberikan jawaban bahwa nilai-nilai agama masih relevan dalam menjawab setiap persoalan hidup mereka. (M Zaid Wahyudi)

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: