Tudingan Salah kepada Muhammadiyah

tr

MUHAMMADIYAH, organisasi Islam terbesar kedua di Indonesia ini, kembali dituding sebagai ”mesin pengeram atau penetas” akar radikalisme di Indonesia lantaran tuduhan yang menimpa Muhzahri. Kebetulan Muhzahri atau Muh Djahri adalah warga dan anggota aktif Muhammadiyah yang pernah mengajar di SMP Muhammadiyah Kedu.

Ia pernah ditangkap dan ditahan Polda Jateng (7/8) kemudian dilepas lagi (14/8) setelah dinyatakan tidak terbukti secara sengaja menyembunyikan tersangka teroris. Ia mengaku sedang berada di sawah ketika penggerebekan itu terjadi. Dirinya hanya dititipi seorang tamu (yang kemudian diketahui bernama Ibrohim) oleh keponakannya kakak-beradik Aris Susanto dan Indra Arif Hermawan (yang tertembak di Kebun Jagung) dan menjamunya sebagaimana kebiasaan warga setempat.

Rumahnya yang terletak di Dusun Beji, Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung rusak parah setelah menjadi sasaran penyergapan (8/8) Densus 88/Antiteror karena diduga kuat sebagai tempat persembunyian gembong teroris Noordin M Top yang belakangan diketahui adalah Ibrohim, penata bunga (florist) yang menjadi jenderal serangan dalam peledakan bom (17/7) di Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton, Jakarta.

Dalam kaitan dengan Muhzahri —dan sebelumnya Amrozi (juga berasal dari keluarga Muhammadiyah dan telah dihukum mati), ideologi Muhammadiyah sayup-sayup dituduh sehaluan dengan Wahabi dan fundamentalis. Seiring dengan kemunculan pernyataan keras AM Hendropriyono (17/7), mantan Kepala BIN, yang menyimpulkan kaum ekstremis Islam yang terlibat dalam jaringan teroris mancanegara sebenarnya berasal dari dua aliran Islam garis keras, yaitu Wahabi dan Ikhwanul Muslimin.

Berkenaan dengan hal itu, setidak-tidaknya ada dua pertanyaan mendasar. Pertama, apakah ideologi Muhammadiyah sama dengan Wahabi? Dan kedua, apakah Muhammadiyah identik dengan terorisme?
Ke Salafi Sebutan ”esktremis” yang digunakan AM Hendropiyono dapat dideskripsikan dengan beberapa istilah lain seperti fundamentalis, militan, radikal, fanatik, jahidis dan islamis. Mereka inilah yang kemudian sering disebut kaum puritan. Kaum Wahabi mengawali kebangkitan kaum puritan dan memengaruhi setiap gerakan puritan di dunia Islam. Taliban dan Al-Qaedah adalah contoh representasi puritanisme yang sangat kuat dipengaruhi oleh pemikiran Wahabi.

Pada abad ke-18, Muhammad ibn ‘Abd al-Wahhab membangun dasar-dasar teologi Wahabi dengan tujuan membebaskan Islam dari berbagai praktik inovasi bidah seperti tasawuf, tawassul, dan ajaran Syiah. Tetapi pada zaman modern ini, Wahabi menyebar ke dunia muslim di bawah bendera Salafi yang berdiri pada abad ke-19. Kaum Salafi digerakkan oleh para reformis muslim terkemuka seperti Muhammad Abduh, Jamaluddin al-Afghani, Rasyid Ridha, serta pengaruh pemikiran Ibnu Taymiyyah dan Ibnu Qayyim al-Jauziyyah.

Sampai awal abad ke-20, kaum Wahabi menyebut diri kaum Salafi. Tetapi sejak 1970-an istilah itu tidak berhubungan lagi dengan keyakinan Wahabi, karena Salafi berbeda dari Wahabi.  Salafi tidak membenci tasawuf. Kaum intelektual Salafi juga lebih maju dan lebih terbuka daripada Wahabi, misalnya dalam praktik talfiq, yaitu memadukan beragam opini dari masa lalu untuk memunculkan pendekatan yang lebih baru terhadap pelbagai masalah yang muncul.
”Family Resemblances” Ada dua pokok pemikiran penting KH Ahmad Dahlan dalam mendirikan dan membangun ideologi Muhammadiyah. Pertama, Muhammadiyah sebagai gerakan purifikasi atau pemurnian, yaitu kembali kepada Alquran dan Sunnah Rasul (ruju’ ila al-Quran wa al-Sunnah). Kedua, Muhammadiyah sebagai gerakan dinamisasi, tajdid atau pembaruan, yaitu bergerak dalam berbagai aktivitas sosial seperti mendirikan amal-amal usaha, rumah sakit, panti asuhan, pesantren, sekolah dan universitas.

Berdasarkan pada bentuk analitika bahasa, Ludwig Wittgenstein (1953) menggunakan istilah ”kemiripan-kemiripan keluarga” (family resemblances) untuk menunjukkan bahwa segala sesuatu yang berbeda pasti memiliki kesamaan/kemiripan atau sebaliknya. Mengacu pada model berpikir Wittgensteinian, Muhammadiyah dapat dikatakan sama atau ”punya kemiripan” dengan Wahabi dan Salafi dalam pokok pemikiran yang pertama. Semua gerakan Islam yang mengaku ahlus sunnah wal jama’ah sudah barang tentu mendasarkan pada pemikiran (dan ideologi) yang sama dengan Muhammadiyah. Inilah doktrin Islam yang tidak dapat ditawar-tawar lagi.

Selain itu, data historis menunjukkan bahwa KH Ahmad Dahlan juga pernah berguru ke Makkah kepada beberapa ulama terkemuka tentang ilmu-ilmu keagamaan seperti fikih, hadis, dan ilmu falak. Beliau juga membaca buku-buku penting para pengusung ide-ide pambaruan dalam Islam di antaranya: Risalah Tauhid karya Syekh Muhammad Abduh, Al-Tawassul wa al-washilah Ibnu Taimiyah, dan Tafsir al-Manar Rasyid Ridla.

Substansi dan orientasi ideologi Muhammadiyah aksentuasinya pada pokok pemikiran yang kedua, yaitu sebagai gerakan sosial. Inilah bentuk realisasi dari semangat (Surat) al-Ma’un yang sering didengungkan KH Ahmad Dahlan.

Ideologi Muhammadiyah sendiri telah dirumuskan dalam Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup (MKCH) Muhammadiyah. Muhammadiyah bersikap inklusif dan berpendirian bahwa pintu ijtihad senantiasa terbuka. Dari sini jelaslah bahwa Muhammadiyah lebih mewakili kelompok moderat, istilah yang merepresentasikan sikap modernis, progresif, toleran, dan reformis. Pendek kata, Muhammadiyah berbeda dari Wahabi.
Ideologi Teror Kekerasan atas nama Tuhan tidak pernah dibenarkan oleh ajaran agama mana pun. Islam tidak mensahkan perbuatan bengis untuk melenyapkan nyawa manusia. Allah jelas-jelas menentang setiap aksi pembunuhan atas manusia. Bagi-Nya, membunuh satu orang sama halnya membunuh seluruh umat manusia (QS Al-Maidah: 32).

Tindakan bom bunuh diri tidak dapat dikatakan jihad sehingga istilah ”calon pengantin” yang dipakai Noordin M Top untuk setiap pelaku pembom yang diiming-imingi mimpi teologis-imajinatif Noordin dengan bidadari-bidadari di surga hanyalah sebagai justifikasi atas aksi kekerasan yang menyesatkan.

Muhammadiyah bersikap inklusif dan berpendirian pintu ijtihad senantiasa terbuka. Muhammadiyah lebih mewakili kelompok moderat. Pendek kata, Muhammadiyah berbeda dari Wahabi.

Ideologi teror menyimpang dari ajaran Islam. Doktrin ideologi ini membutakan mata hati kaum teroris karena meyakini orang-orang kafir itu halal darahnya tanpa membedakan apakah nonmuslim itu termasuk kafir harbi (yang boleh diperangi) atau kafir zimmi (yang harus dihormati).

Ideologi teror sangat bertentangan dengan Islam dan Muhammadiyah sebagai gerakan tajdid. Muhammadiyah menekankan ”jihad sosial”, sikap berani hidup membela nilai-nilai kemanusiaan dengan pelbagai pelayanan dan kritik sosial yang mencerahkan, bukan dengan teror dan kekerasan. (35)

—Robby H Abror SAg MHum, peserta Program Doktor Kajian Budaya dan Media UGM

Both comments and trackbacks are currently closed.
%d blogger menyukai ini: