Orang Muhammadiyah Sedang Berubah

hj

Oleh: Hajriyanto Y Thohari

Tulisan Tercecer Jelang Muktamar Malang

AMIEN Rais, mantan ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah secara terbuka menyatakan mendukung Din Syamsuddin untuk menjadi ketua umum PP Muhammadiyah dalam Muktamar ke-45 yang akan datang (Jawa Pos, 1 Mei 2005).

Sebelum itu, Ketua MPP Partai Amanat Nasional (PAN) itu berulang kali menyatakan kesiapannya untuk kembali memimpin Muhammadiyah jika mayoritas warga Muhammadiyah memintanya. Jauh sebelum itu, Yahya Muhaimin, Ketua Forum Komunikasi Alumni Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (Fokal IMM), yang juga anggota PP Muhammadiyah, secara tanpa tedeng aling-aling mencalonkan empat nama untuk menjadi ketua umum, yaitu Amien Rais, Rosyad Sholeh, Yahya A Muhaimin, dan Din Syamsuddin (Kompas, 5 April 2005).

Belum lama juga Abdul Malik Fadjar, mantan Menteri Pendidikan Nasional yang juga salah seorang Wakil Ketua PP Muhammadiyah, seolah tidak mau ketinggalan, ikut menyatakan dukungannya secara terbuka kepada Amien Rais untuk memimpin lagi Muhammadiyah. Katanya, figur dan ketokohan Amien Rais sangat dibutuhkan Muhammadiyah, dan karena itu sangat pantas untuk dipilih kembali menjadi ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah dalam muktamar mendatang (Indo Pos, 7 April 2005).

Ini semua melengkapi berita sebelumnya bahwa Dahlan Rais, Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah, telah menyatakan secara terbuka bahwa Jawa Tengah siap mengusung dan mendukung Amien Rais untuk menjadi ketua umum PP Muhammadiyah dalam Muktamar ke-45 mendatang (baca: Detikcom, 29 Maret 2005).

Membaca berita-berita yang tidak lazim seperti itu, jangankan orang Muhammadiyah yang konservatif, bahkan yang paling liberal sekalipun, terkejut bukan alang kepalang. Dengan penuh kemasygulan, mereka bertanya ada genre budaya baru apakah dalam tubuh gerakan dakwah ini menjelang muktamarnya yang ke-45 yang akan digelar pada awal Juli 2005 ini? Mereka menyaksikan dengan masygul bahwa kini dalam tubuh organisasi tua, kalau bukannya yang tertua di Indonesia ini, mulai membudaya modus baru pemberian dukungan secara terbuka terhadap figur tertentu untuk dipilih menjadi ketua umum dalam muktamar yang nota bene masih tiga bulan lagi itu.

Fenomena Baru

Dalam konteks Muhammadiyah, sebagai gerakan dakwah yang bercorak kultural, kebiasaan dukung-mendukung secara terbuka seperti itu merupakan fenomena baru yang anakronistik. Ironisnya modus baru yang menyalahi kelaziman ini dilakukan dan dipelopori oleh kalangan elite organisasinya sendiri yang mestinya menjadi penjaga gawang budaya luhur sistem pemilihan pimpinan dalam Muhammadiyah yang dipraktikkan selama ini. Ironis, ternyata ada banyak elite yang tidak tahu dan bangga akan sejarah kemunculan kepemimpinan dalam Muhammadiyah selama ini yang selalu sangat alami, natural atau thabii itu.

Dikatakan alami, karena dalam praktik pemilihan pimpinan Muhammadiyah tidak lazim ada kampanye, promosi, negosiasi, tawar-menawar politik atau lobi, dan last but not least tidak ada dukungan, apalagi kebulatan tekad agar terpilih dan dipilih menjadi pimpinan. Semuanya mengalir begitu saja secara alami tanpa rekayasa, apalagi rekayasa politik. Semua muktamirin sejak zaman dahulu kala, baik yang masih hidup maupun yang sudah mati, boleh ditanya dan kalau perlu dibangunkan dari kuburnya untuk diminta kesaksiannya: pasti semua akan bersaksi bahwa semua ketua dan pimpinan Muhammadiyah benar-benar terpilih secara alami dan murni.

Tidak mengherankan jika modus baru ini telah mengundang sejumlah kekhawatiran. Pasalnya, modus kebulatan tekad semacam ini tidak mustahil akan segera diikuti dengan kampanye dan penggalangan dukungan terhadap tokoh tertentu di wilayah, daerah, dan cabang-cabang sebagai pemilik suara dalam muktamar nanti. Jika demikian yang terjadi, maka lantas apa bedanya muktamar organisasi dakwah ini dengan kongres-kongres partai politik yang isinya cuma perebutan pimpinan itu? Selanjutnya, dengan demikian lantas apakah bedanya Muhammadiyah dengan partai politik? Bisa-bisa Muhammadiyah setali tiga uang dengan partai politik, atau minimal akan menjadi partai politik yang berjubah organisasi dakwah.

Pergeseran Orientasi

Walhasil, gerakan pemberian dukungan secara personal atau figural tersebut bukan hanya akan sangat destruktif terhadap mekanisme pemilihan pimpinan yang selama ini selalu berjalan alami tanpa rekayasa, melainkan juga dengan tanpa disadari akan membawa implikasi yang sangat serius: terjadinya politisasi pada level akar rumput gerakan Muhammadiyah. Sebab, budaya baru ini berpotensi merubah mindset orang Muhammadiyah yang selama ini hanya peduli dan berorientasi pada amal salih yang bersifat kultural menjadi berorientasi pada kepemimpinan yang bersifat figural. Padahal Muhammadiyah menganut kepemimpinan ide dan amal salih, bukannya kepemimpinan figur.

Figur bukannya tidak penting, tetapi tidaklah sentral dalam gerakan Muhammadiyah. Bahkan saking tidak terlalu sentralnya figur pimpinan dalam Muhammadiyah, maka dalam muktamar-muktamar Muhammadiyah jarang sekali para muktamirin ikut menunggui penghitungan suara hasil voting. Pasalnya, pemilihan ketua atau pimpinan tidak pernah menjadi prioritas utama bagi gerakan Muhammadiyah. Tetapi dengan diintrodusirnya modus baru berupa kebulatan tekad yang dilakukan oleh sementara elite organisasi seperti tersebut di atas, akan membawa dampak serius bagi masa depan Muhammadiyah sebagai gerakan amal salih: berpotensi bagi terjadinya pergeseran orientasi warga Muhammadiyah dari amal salih kepada orientasi figur.

Muhammadiyah bukanlah gerakan politik. Dalam gerakan politik, faktor figur pimpinan senantiasa sentral dan signifikan, penting dan dipentingkan. Mitsuo Nakamura, ahli antropologi penulis buku tentang Muhammadiyah, The Crescent Arises Over The Banyan Three (1983), dengan sangat tepat menyebut Muhammadiyah adalah gerakan etik, bukan politik. Dan James L Peacok (1978) menyebut gerakan Muhammadiyah sebagai purifying the faith, dan orang-orang Muhammadiyah pada umumnya adalah orang-orang puritan yang cenderung tidak menyukai cara-cara politik. Dan karena itu, kebiasaan-kebiasaan dalam gerakan politik tidak seyogianya diperkenalkan dan dipraktikkan dalam Muhammadiyah.

Muhammadiyah tampaknya kini telah berubah. Budaya dukung mendukung alias kebulatan tekad secara terbuka semacam ini yang dulu dikecam sebagai lingua franca dalam nomenklatur perpolitikan Orde Baru itu kini mulai dipraktikkan dalam Muhammadiyah, bahkan oleh kalangan elitenya sendiri. Sebuah genre budaya baru yang menyalahi budaya kepemimpinan Muhammadiyah. Wallahu aílam. (24)

-Hajriyanto Y Thohari, Wakil Sekretaris PP Muhammadiyah.

Both comments and trackbacks are currently closed.
%d blogger menyukai ini: