Lagi, Ulama Pimpin Muhammadiyah

abs

Oleh Abu Su’ud

BARANGKALI pembagian secara dikotomis ulama dan bukan ulama hanya terjadi dalam wacana belaka. Tidak ada pembagian yang pasti seorang tokoh itu bisa digolongkan ke dalam kategori bukan ulama manakala pengertian itu diterapkan dalam kepemimpinan organisasi dakwah maupun keagamaan seperti Persarikatan Muhammadiyah.

Untuk menentukan seseorang digolongkan menjadi ulama maupun bukan ulama bisa digunakan berbagai ukuran. Ukuran pertama barangkali yang paling formal, yaitu seorang lulusan pendidikan keagamaan dari tingkat atau jenjang mana pun. Bisa ponpes, madrasah diniyah, MI, bisa pula PT keagamaan seperti lAIN.

Kemudian mereka berkecimpung dalam penyiaran agama. Tentu saja ukuran tersebut tidak terlalu akurat sebab keulamaan tidak sekadar ditunjukkan oleh lembaga pendidikan yang telah dimasuki tokoh tersebut.

Sementara itu seorang lulusan pendidikan tersebut bisa pula digolongkan menjadi cendekiawan agama. Oleb karena keulamaan atau ulama bukan merupakan gelaran formal, maka keullamaan itu lebih terlihat pada penampilan seseorang dan bukan dari lembaga pendidikan tempat seseorang menimba ilmu agama.

Secara dikotomis seorang tokoh yang berasal dari lembaga pendidikan bukan keagamaan tidaklah salah kalau dimasukkan ke dalam bukan ulama. Tidak salah pula kalau orang tersebut digolongkan ke dalam intelektual non-agama. Meskipun demikian kedua pembagian tersebut sekali lagi tidaklah terlalu akurat.

Sebagai sebuah wacana tidaklah berlebihan kalau orang melakukan pembicaraan apakah seseorang yang memimpin sebuah organisasi keagamaan seperti Muhammadiyah itu tergolong ulama atau bukan ulama. Untuk sementara marilah kita sepakati bahwa keulamaan tersebut disebabkan apakah seseorang itu lulusan lembaga pendidikan keagamaan seperti IAIN, sementara mereka yang bukan lulusan lembaga pendidikan agama itu dan memiliki kesarjaan umum bisa dimasukkan sebagai bukan ulama.

Sementara aitu akhir-akhir ini kelompok kedua tersebut bisa digolongkan sebagai cendekiawan muslim sesuai dengan penampilan hidup keagamaannya maupun pikiran-pikirannya. Orang-orang semacam Amien Rais maupun Syafi’i Ma’arif sering dikelompokkan ke dalam cendekiawan muslim dan bukan digolongkan ke dalam kategori ulama, meskipun Syafi’i Ma’arif sering dipanggil ”Buya” yaitu sebutan kiai atau ulama dari daerah Minangkabau.

Yang menarik adalah mengapa masyarakat biasa menempatkan orang seperti Nurcholish Majid yang lulusan IAIN plus ke dalam cendekiawan muslim dan bukan dalam kelompok ulama.

Sejak tahun 1990 terjadi gejala menarik dalam kepemimpinan Muhammadiyah terutama untuk kepemimpinan pusat. Terpilihnya Amien Rais dalam muktamar di Aceh pada tahun 1995 sebagai ketua umum PP Muhammadiyah menandai sebuah trend baru dalam kepemimpinan Muhammadiyah.

Trend itu kemudian seperti berlangsung terus ketika pada muktamar lima tahun berikutnya di Jakarta tahun 2000 Syafi’i Ma’arif menjadi ketua umum PP Muhammadiyah. Menariknya gejala tersebut adalah karena sejak berdiri sampai kepemimpinan sebelum Amien Rais, PP Muhammadiyah selalu dipimpin oleh ulama dalam artian bukan lulusan pendidikan tinggi umum; sementara Amien Rais maupun Syafi’i Ma’arif adalah dua tokoh sarjana atau cendekiawan dengan latar belakang pendidikan umum.

Trend tersebut kemudian seolah-olah berhenti dengan terpilihnya Dien Syamsudin dalam Muktamar Malang 2005 sebagai ketua umum PP Muhammadiyah.

Ketua umum PP Muhammadiyah tersebut merupakan tokoh dengan latar belakang pendidikan keagamaan IAIN meskipun tidak berarti bahwa Dien Syamsuddin hanya menguasai pengetahuan keagamaan saja.

Jawa Tengah

Gejala yang sama nampaknya terjadi pula dalam kepemimpinan PWM periode Muktamar Aceh. Muswil yang diselenggarakan tersebut telah mengantarkan seorang yang bukan ulama, yaitu Abu Su’ud menjadi ketua PWM Jateng untuk periode 1995-2000. Kepemimpinan itu menggantikan kepemimpinan PWM yang selama periode sebelumnya dipimpin oleh kiai atau ulama, yaitu KH Rasyidi, yang digantikan oleh KH Suratman SP. Seterusnya oleh KH Abu Hamid.

Gejala tersebut nampaknya menjadi sebuah kecenderungan, karena dalam Muswil yang berlangsung di Karanganyar telah mengantarkan seorang yang bukan ulama melainkan seorang staf pengajar bahasa Inggris pada UNS Surakarta.

Seperti yang terjadi dalam PP Muhammadiyah di Jawa Tengah kecenderungan bukan ulama memimpin Muhammadiyah berhenti, ketika Muswil yang berlangsung di Purwokerto untuk periode 2005-2010 telah mengangkat seorang tokoh ulama yaitu Ustad Marpuji Ali, dosen FAI pada UMS Surakarta. Yang bersangkutan adalah lulusan IAIN dan tengah menyiapkan tesis untuk gelar magisternya.

Kalau diperhatikan komposisi para anggota pimpinan yang berjumlah 13 orang yang terpilih dalam Muswil Purwokerto terlihat tokoh-tokoh dengan latar belakang pendidikan tinggi agama Islam, seperti Rozihan, Musman Tholib, Ahmadi, Darori Amin, Tafsir, Suparman Syukur dsb.

Sampai sekarang tokoh-tokoh tersebut masih menjadi staf pengajar IAIN Walisongo, Unissula, UIN Sunan Kalijaga maupun Unimus. Hanya ada dua dari mereka yang bukan berpendidikan tinggi agama, yaitu Irianto yang dosen Unimus dan Wasapada yang penguasa mebel dari Jepara.

Kenyataan ini bisa memberi petunjuk bahwa untuk periode mendatang para ulama atau tokoh lulusan pendidikan tinggi agama Islam akan selalu memegang pimpinan dalam PWM Jawa Tengah.

Ketika Abu Su’ud terpilih menjadi pimpinan Muhammadiyah Jawa Tengah telah mengundang komentar dari seorang cendekiawan Muslim yang juga menjadi wakil ketua PWNU pada saat itu, yaitu Ali Mufis yang sekarang menjabat sebagai Wakil Gubernur Jawa Tengah. Komentarnya mengesankan dukungan atas kehadiran seorang bukan ulama dalam kepemimpinan organisasi atau gerakan dakwah.

Hal itu ditekankan karena berbeda dengan dalam struktur kepemimpinan NU, di Muhammadiyah tidak dikenal adanya Majlis Syuriah yang merupakan pasangan atau pendampingan kepemimpinan yang dipimpin oleh bukan ulama, seperti yang pada saat itu dipegang oleh H. Ahmad mantan bupati dan merupakan staf akademik Undip.

Selama periode kepemimpinan bukan ulama di dalam Muhammadiyah memang tidak terjadi perubahan atau kejadian yang unik meskipun bukan dipegang oleh ulama. Hal itu barangkali terjadi karena kepemimpinan dalam Muhammadiyah bersifat “kolegial”.

Di sana ketua bukan satu-satunya tokoh pengambil keputusan karena kepemimpinan dilaksanakan selalu dalam musyawarah.

Komposisi Integratif

Dapat diramalkan, kalau tidak ada sebuah kejutan munculnya tokoh yang bukan ulama yang datang tiba-tiba, dapatlah diduga bahwa kepemimpinan PWM Jawa Tengah sampai dua periode mendatang akan selalu diisi oleh tokoh-tokoh ulama yang nyaris, dapat menimbulkan asosiasi sebagai majelis syuriyah.

Tiga belas tokoh yang tercantum dalam komposisi PWM tersebut merupakan wujud kepemimpinan Muhammadiyah Jawa Tengah. Tentu saja komposisi semacam itu tidak ada buruknya, karena Persarikatan Muhammadiyah sejak mulai didirikan terdiri dari para ulama. Namun tidaklah salah seandainya diperlukan sebuah komposisi yang lebih integratif di masa-masa yang akan datang.

Kesan yang timbul kalau komposisi kepemimpinan itu hanya terdiri dari para ulama yang memiliki latar belakang pendidikan agama saja akan membuka peluang bagi kesan atau anggapan bahwa Muhammadiyah Jawa Tengah tidak memiliki SDM yang bervariasi. Sudah harus dimulai mencari tokoh-tokoh dengan latar belakang pendidikan yang bervariasi pula untuk memimpin persarikatan di masa-masa yang akan datang.

Pemimpin memang bisa muncul secara tiba-tiba, namun bisa pula dipersiapkan lewat proses kaderisasi. Proses kaderisasi untuk menjadi penggerak Muhammadiyah harus disiapkan lebih cermat untuk mengantisipasi berbagai masalah yang dihadapi Muhammadiyah di masa depan yang tidak hanya dalam bidang-bidang keagamaan saja. Sebagaimana kita ketahui perserikatan bukan sekadar gerakan dakwah keagamaan, melainkan sangat bervariasi yang mencakup banyak sekali bidang kegiatan, seperti pendidikan, kesehatan, perekonomian maupun kebudayaan.

Untuk mendapatkan SDM yang bervariasi tersebut sebetulnya tidaklah terlalu susah, karena anggota maupun simpatisan Muhammadiyah sudah ada pada semua lapisan maupun segmen masyarakat. Yang diperlukan adalah bagaimana menyiapkan berbagai SDM tersebut sedekat mungkin dengan lapis kepemimpinan yang paling inti.

Selama ini dipahami bahwa proses kaderisasi tenaga-tenaga untuk memimpin organisasi hanyalah lewat pendidikan formal yang sudah dimulai sejak pendidikan dasar sampai ke perguruan tinggi. Di samping itu Muhammadiyah juga menyiapkan kader kepemimpinan itu lewat lembaga pelatihan kepemimpinan.

Mereka juga bisa dipersiapkan lewat organisasi otonom kerajaan, kemahasiswaan, maupun kepemudaan. Tidak ada salahnya pula mereka direkrut lewat Majelis, seperti Majelis Pendidikan, Ekonomi, Kesehatan, Kebudayaan dsb.

Pengalaman menunjukkan masih ada jalur lain untuk menyiapkan kader-kader kepemimpinan itu, yang tidak lain adalah melakukan penjaringan dalam berbagai kegiatan untuk mendapatkan tenaga-tenaga atau SDM yang bisa ”ditangkap” di dalam berbagai kegiatan.

Mereka itu barangkali orang-orang yang tidak pernah memasuki pendidikan yang diselenggarakan Muhammadiyah. Mereka itu juga barangkali belum pernah mengikuti pelatihan kepemimpinan tingkat manapun. Mereka itu adalah orang-orang muslim yang secara formal belum mengikuti atau menjadi anggota persarikatan. Mereka bisa dijumpai di kalangan cendekiawan yang dapat disebut cendekiaran muslim yang sudah bekerja di lingkungan perguruan tinggi maupun sudah menjadi tenaga kerja pada lapangan kerja tertentu.

Barangkali banyak potensi yang bisa berpartisipasi dalam gerakan itu yang belum atau yang tidak terlibat di dalam kegiatan pengajian di daerah-daerah. Ada berbagai cara agar orang-orang yang mempunyai potensi, meskipun belum menjadi anggota Muhammadiyah agar tidak dianggap sebagai datang secara tiba-tiba pada jenjang kepengurusan tingkat daerah maupun provinsi.

Cara lain yang bisa dilakukan adalah membentuk kepengurusan istimewa di lingkungan perguruan tinggi Muhammadiyah semacam organisasi Korpri didalam instansi pemerintah. Tentu saja kepengurusan istimewa tersebut tidak harus dipimpin oleh para petinggi perguruan tinggi Muhammadiyah tersebut. Dengan caa itu potensi-potensi atau kader-kader sudah bisa ditemukan dan menjadi bukan orang baru atau orang asing.

Sekali waktu mereka bisa direkrut di dalam kepengurusan Muhammadiyah tingkat wilayah. Cara lain yang dapat dikembangkan adalah menyiapkan semacam majelis yang terdiri dari para cendekiawan muslim di lingkungan atau dalam struktur persarikatan. Untuk itu bisa lebih mudah lagi dilakukan dengan mengajak potensi-potensi tersebut dalam forum diskusi.

Pada level itulah para cendekiawan muslim bisa memberikan kontribusi atau pemikiran untuk mengembangkan perserikatan meskipun mereka belum menjadi anggota persarikatan.

Kasus yang terjadi dengan Bung Karno yang dianggap sebagai anggota istimewa perserikatan nampaknya bisa digunakan sebagai prosedur untuk mendapatkan sumber daya yang siap dilibatkan dalam kepengurusan tingkat wilayah. Dengan demikian Muhammadiyah tidak lagi mendapat kesulitan mendapat tokoh-tokoh yang bisa dilibatkan dalam struktur kepemimpinan tingkat wilayah.

Dengan demikian pula komposisi kepengurusan Muhammadiyah bisa lebih terintegrasi antara mereka-mereka dari latar belakang pendidikan maupun kegiatan yang amat bervariasi.

Dalam muswil Kendal tahun 1995 terjadi peristiwa yang unik yaitu dimasukkannya dua intelektual muslim yang selama ini tidak dimasukkan sebagai asset Muhammadiyah. Dua tokoh tersebut adalah Dr Amin Syukur dan Dr Qodri Azizi yang keduanya merupakan intelektual yang bekerja di IAIN Walisongo Semarang. Mereka juga bukan orang baru yang sering memberi ceramah dalam berbagai kegiatan Muhammadiyah.

Kasus semacam itu memberikan kita pengalaman untuk mencoba membuat atau membuka peluang masuknya orang-orang secara tiba-tiba menjadi aset kepemimpinan Muhammadiyah. Tokoh-tokoh semacam itu tentunya banyak terdapat dalam masyarakat. (11)

Prof Dr Abu Su’ud, rektor Universitas Muhammadiyah Semarang

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: